probouut

Just another WordPress.com site

SISTEM ENDOKRIN

pada Maret 27, 2012
  1. ANATOMI, FISIOLOGI, PATOFISIOLOGI SISTEM ENDOKRIN

 

SISTEM ENDOKRIN

Sistem Endokrin adalah sistem kontrol kelenjar tanpa saluran yang menghasilkan hormon yang tersirkulasi di tubuh melalui aliran darah untuk mempengaruhi organ-organ lain. Sistem endokrin umumnya bekerja melalui hormon, Hormon adalah zat yang dilepaskan ke dalam aliran darah dari suatu kelenjar atau organ, yang bertindak sebagai “pembawa pesan” untuk dibawa ke berbagai sel tubuh, kemudian “pesan” itu diterjemahkan menjadi suatu tindakan. Dalam hal struktur kimianya, hormon diklasifikasikan sebagai hormon yang larut dalam air dan yang larut dalam lemak. Hormon yang larut dalam air termasuk polipeptida (misal insulin, glukagon, hormon adrenokortikotropik, gastrin) dan katekolamin (misal dopamin, norepinefrin, epinefrin). Hormon yang larut dalam lemak termasuk steroid (misal estrogen, progesteron, testosteron, glukokortikoid, aldosteron) dan tironin (misal tiroksin).

KLASIFIKASI HORMON

ü   Hormon perkembangan / Growth hormone à hormon yang memegang peranan di dalam perkembangan dan pertumbuhan.

ü   Hormon metabolisme à proses homeostasis glukosa dalam tubuh diatur oleh bermacam-macam hormon, contoh glukokortikoid, glukagon, dan katekolamin.

ü   Hormon tropik à dihasilkan oleh struktur khusus dalam pengaturan fungsi endokrin yakni kelenjar hipofise sebagai hormon perangsang pertumbuhan folikel (FSH) pada ovarium dan proses spermatogenesis (LH).

ü   Hormon pengatur metabolisme air dan mineral à kalsitonin dihasilkan oleh kelenjar tiroid untuk mengatur metabolisme kalsium dan fosfor.

Organ dari sistem endokrin :

  1. Hipotalamus, sebagai bagian dari sistem endokrin mengontrol sintesa dan sekresi hormon-hormon hipofise. Hipotalamus melepaskan sejumlah hormon yang merangsang hipofisa. Hipotalamus terletak di batang otak, tepatnya di dienchepalon, dekat dengan ventrikulus tertius yang berfungsi sebagai pusat tertinggi sistem kelenjar endokrin yang menjalankan fungsinya melalui hormonal dan saraf.

 

 

Hormon-hormon hipotalamus antara lain:

  1. ACTH : Adrenocortico Releasing Hormon
  2. ACIH : Adrenocortico Inhibiting Hormon
  3. TRH : Tyroid Releasing Hormon
  4. TIH : Tyroid Inhibiting Hormon
  5. GnRH : Gonadotropin Releasing Hormon
  6. GnIH : Gonadotropin Inhibiting Hormon
  7. PTRH : Paratyroid Releasing Hormon
  8. PTIH : Paratyroid Inhibiting Hormon
  9. PRH : Prolaktin Releasing Hormon
  10. PIH : Prolaktin Inhibiting Hormon
  11. GRH : Growth Releasing Hormon.
  12. GIH : Growth Inhibiting Hormon
  13. MRH : Melanosit Releasing Hormon
  14. MIH : Melanosit Inhibiting Hormon

 

  1. Hipofisis / Hipofise (Pituitary)

Hipofise terletak di sella tursika, lekukan os spenoidalis basis cranii. Berbentuk oval dengan diameter kira-kira 1 cm dan dibagi atas dua lobus Lobus anterior, merupakan bagian terbesar dari hipofise kira-kira 2/3 bagian dari hipofise. Lobus anterior ini juga disebut adenohipofise. Lobus posterior, merupakan 1/3 bagian hipofise dan terdiri dari jaringan saraf sehingga disebut juga neurohipofise. Hipofise menghasilkan hormon tropik dan hormon nontropik. Hormon tropik mengontrol sintesa dan sekresi hormon kelenjar sasaran sedangkan hormon nontropik akan bekerja langsung pada organ sasaran.

  1. Kelenjar Timus (Thymus)

Thymus terletak di dalam mediastinum di belakang os stemum. Hanya dijumpai pada anak-anak di bawah 18 tahun. Setelah itu kelenjar ini mengecil dan tidak ditemukan lagi. Kelenjar ini berwarna kemerah-merahan dan terdiri atas 2 lobus. Beratnya sekitar 10 gram pada bayi yang baru lahir, namun bertambah seriring masa remaja, yaitu sekitar 30-40 gram, kemudian berkerut lagi setelah dewasa. Selama masih aktif, kelenjar ini menghasilkan sel darah putih yang disebut T-lymphocyte. Sel ini selanjutnya akan menetap di dalam tubuh dan mempunyai memory atau ingatan terhadap benda asing yang pemah masuk tubuh dan sel tubuh yang abnormal (termasuk sel kanker). Jika zat yang sama masuk tubuh maka sel ini akan memperbanyak dan menetralkan efek zat itu terhadap tubuh. Fungsi ini merupakan suatu bagian sistem proteksi tubuh atausistem imun (cell mediated immune system) yang bersifat seluler.

  1. Kelenjar Tiroid (Kelenjar Gondok)

Kelenjar tiroid merupakan kelenjar berwarna merah kecoklatan dan sangat vascular. Terletak di anterior cartilago thyroidea di bawah laring setinggi vertebra cervicalis 5 sampai vertebra thorakalis 1. Kelenjar ini terselubungi lapisan pretracheal dari fascia cervicalis. Beratnya kira-kira 18-25 gr tetapi bervariasi pada tiap individu. Kelenjar tiroid sedikit lebih berat pada wanita terutama saat menstruasi dan hamil. Lobus kelenjar tiroid seperti kerucut. Ujung apikalnya menyimpang ke lateral ke garis oblique pada lamina cartilago thyroidea dan basisnya setinggi cartilago trachea 4-5. Kelenjar ini terdiri atas dua lobus yaitu lobus kiri kanan yang dipisahkan oleh isthmus. Masing-masing lobus kelenjar ini mempunyai ketebalan lebih kurang 2 cm, lebar 2,5 cm dan panjangnya 4 cm. Tiap-tiap lobus mempunyai lobuli yang di masing-masing lobuli terdapat folikel dan parafolikuler. Di dalam folikel ini terdapat rongga yang berisi koloid dimana hormon-hormon disintesa. Kelenjar tiroid mendapat sirkulasi darah dari arteri tiroidea superior dan arteri tiroidea inferior. Arteri tiroidea superior merupakan percabangan arteri karotis eksternal dan arteri tiroidea inferior merupakan percabangan dari arteri subklavia.Lobus kanan kelenjar tiroid mendapat suplai darah yang lebih besar dibandingkan dengan lobus kiri. Dipersarafi oleh saraf adrenergik dan kolinergik. Saraf adrenergik berasal dari ganglia servikalis dan kolinergik berasal dari nervus vagus.

  1. Paratiroid (Kelenjar Anak Gondok)

Kelenjar paratiroid berukuran kecil, kuning kecoklatan oval, biasanya terletak antara garis lobus posterior dari kelenjar tiroid dan kapsulnya. Ukurannya kira2 6x3x2 mm. Beratnya 50 mg. Kelenjar ini berjumlah empat buah, biasanya 2 pada tiap sisi, superior dan inferior. Normalnya paratiroid posterior bergeser hanya pada kutub paratiroid posterior, tapi bisa juga turun bersama timus ke thorax atau pada bifurcation karotis.Kelenjar paratiroid superior letaknya lebih konstan daripada inferior dan biasanya terlihat di tengah garis posterior kelenjar tiroid walaupun bisa lebih tinggi. Bagian inferior sangat bervariasi pada beberapa situasi (tergantung perkembangan embriologisnya) dan bias tanpa selubung fascia tiroid, di bawah arteri tiroid, atau pada kelenjar tiroid dekat kutub inferior. Kelenjar ini terdiri dari dua jenis sel yaitu chief cells dan oxyphill cells. Chief cells merupakan bagian terbesar dari kelenjar paratiroid, mensintesa dan mensekresi hormon paratiroid atau parathormon disingkat PTH.

KELENJAR ENDOKRIN

Pengertian

Kelenjar endokrin adalah kelenjar yang mengirim hasil sekresinya langsung ke dalam darah yang beredar dalam jaringan dan menyekresi zat kimia yang disebut hormon. Hormon adalah zat yang dilepaskan ke dalam aliran darah dari suatu kelenjar atau organ yang mempengaruhi kegiatan di dalam sel.

Fungsi kelenjar endokrin adalah sebagai berikut :

ü   Menghasilkan hormon yang dialirkan kedalam darah yang yang diperlukan oleh jaringan tubuh tertentu.

ü   Mengontrol aktivitas kelenjar tubuh

ü   Merangsang aktivitas kelenjar tubuh

ü   Merangsang pertumbuhan jaringan

ü   Mengatur metabolisme, oksidasi, meningkatkan absorbsi glukosa pada usus halus

ü   Memengaruhi metabolisme lemak, protein, hidrat arang, vitamin, mineral, dan air.

Kelenjar hipofisis ( lobus anterior ) :

ü   hormon pertumbuhan ( somatotropin )

ü   thyroid-stimulatin hormon ( TSH )

ü   adrenokortikotropin ( ACTH )

ü   follicle-stimulating hormon ( FSH )

ü   luteinizing hormon ( LH )

ü   prolaktin

Kelenjar hipofisis ( lobus posterior ):

ü   antidiuretik ( vasopresin )

ü   oksitosin

 

Kelenjar tiroid :

ü   tiroksin

ü   kalsitonin

Kelenjar paratiroid :

ü   parathormon

Kelenjar adrenal :

ü   korteks : mineralokortikoid, glukokortikoid, dan hormon seks

ü   medula : epinefrin, dan norepinefrin

Kelenjar pankreas :

ü   insulin

ü   glukagon

ü   somatostatin

Ovarium :

ü   estrogen

ü   progesteron

Testis :

ü   testoteron

 

  1. Kelenjar Hipofisis

Merupakan sebuah kelenjar sebesar kacang polong, terletak di dalam struktur bertulang (sela tursika) di dasar otak. Hipofisis mengendalikan fungsi dari sebagian besar kelenjar endokrin lainnya, sehingga disebut kelenjar pemimpin, atau master of gland. Kelenjar hipofisis terdiri dari dua lobus, yaitu lobus anterior dan lobus posterior.

 

 

 

 

Fungsi hipofisis anterior ( adenohipofise )

Menghasilkan sjumlah hormon yang bekerja sebagai zat pengendali produksi dari semua organendokrin yang lain. Yaitu :

ü Hormon pertumbuhan (somatotropin ) : mengendalikan pertumbuhan tubuh (tulang, otot, dan organ-organ lain).

ü Hormon TSH : mengendalikan pertumbuhan dan aktivitas sekretorik kelejar tiroid.

ü Hormon ACTH : mengendalikan kelenjar suprarenal dalam menghasilkan kortisol yang berasal dari kortex suprarenal.

ü Hormon FSH : pada ovarium berguna untuk merangsang perkembangan folikel dan sekresi esterogen. Pada testis, homon ini berguna untuk merangasang pertumbhan tubulus seminiferus, dan spermatogenesis.

ü Hormon LH : pada ovarium, untuk ovulasi, pembentukan korpus luteum, menebalkan dinding rahim dan sekresi progesteron. Dan pada testis, untuk sekresi testoteron.

ü Hormon Prolaktin : untuk sekresi mamae dan mempertahankan korpus luteum selama hamil.

Fungsi hipofisis posterior

ü  Anti-diuretik hormon (ADH): mengatur jumlah air yang melalui ginjal, reabsorbsi air, dan mengendalikan tekanan darah pada arteriole

ü  Hormon oksitosin : mengatur kontraksi uterus sewaktu melahirkan bayi dan pengeluaran air susu sewaktu menyusui.

 

  1. Kelenjar Tiroid

Tiroid merupakan kelenjar kecil, dengan diameter sekitar 5 cm dan terletak di leher, tepat dibawah jakun. Dalam keadaan normal, kelenjar tiroid tidak terlihat dan hampir tidak teraba, tetapi bila membesar, dokter dapat merabanya dengan mudah dan suatu benjolan bisa tampak dibawah atau di samping jakun. Kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroid, yang mengendalikan kecepatan metabolisme tubuh. Hormon tiroid mempengaruhi kecepatan metabolisme tubuh melalui 2 cara:

ü  Merangsang hampir setiap jaringan tubuh untuk menghasilkan protein.

ü  Meningkatkan jumlah oksigen yang digunakan oleh sel.

Atas pengaruh hormon yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisis lobus anterior, kelenjar tiroid dapat memproduksi hormon tiroksin. Adapun fungsi dari hormon tiroksin adalah mengatur pertukaran zat metabolisme tubuh dan mengatur pertumbuhan jasmani dan rohani.

Fungsi kelenjar tiroid sendiri adlah sebagai berikut :

ü  Bekerja sebagai perangsang proses oksidasi

ü  Mengatur penggunaan oksidasi

ü  Mengatur pengeluara karbon dioksida

ü  Metabolik dalam hati pengaturan susunan kimia dalam jaringan

ü  Pada anak mempengaruhi fisik dan mental

Kelenjar tiroid menghasilkan hormon-hormon sebagai berikut :

ü  Tri-iodo-tironin(T3) dan Tiroksin (T4), berguna untuk merangsang metabolisme zat, katabolisme protein, dan lemak, meningkatkan produksi panas, merangsang sekresi hormon pertumbuhan, dan mempengaruhi perkembangan sel-sel saraf dan mental pada balita dan janin. Kedua hormon ini biasa disebut dangan satu nama,yaitu hormon tiroid.

ü  Kalsitonin : menurunkan kadar kalsium plasma, dengan meningkatkan jumlah penumpukan kalsium pada tulang.

 

  1. Kelenjar Paratiroid

Secara normal ada empat buah kelenjar paratiroid pada manusia, yang terletak tepat dibelakang kelenjar tiroid, dua tertanam di kutub superior kelenjar tiroid dan dua di kutub inferiornya.

Fungsi kelenjar paratiroid :

ü  Memelihara konsentrasi ion kalsium yang tetap dalam plasma.

ü  Mengontrol ekskresi kalsium dan fosfat melalui ginjal.

ü  Mempercepat absorbsi kalsium di intestin.

ü  Kalsium berkurang, hormon para tiroid menstimulasi reabsorpsi tulang sehingga menambah kalsium dalam darah.

ü  Menstimulasi dan mentransport kalsium dan fosfat melalui mmbran sel.

ü  Kelenjar ini menghasilkan hormon yang sering disebut parathormon, yang berfungsi meningkatkan resorpsi tulang, meningkatkan reorpsi kalsium, dan menurunkan kadar kalsium darah.

 

  1. Kelenjar Adrenal ( Anak Ginjal )

Terdapat 2 buah kelenjar adrenal è terletak diatas ginjal. Kelenjar adrenal terbagi menjadi 2 bagian, yaitu bagian medula adrenal ( bagian tengah kelenjar adrenal ) dan korteks adrenal ( bagian luar kelenjar ).

Korteks adrenal memproduksi 3 kelompok hormon steroid, yaitu glukokortikoid dengan prototipe hidrokortison, mineralokortikoid khususnya aldosteron, dan hormon-hormon seks khususnya androgen.

Glukokortikoid berfungsi untuk mempengeruhi metabolisme glukosa, peningkatan sekresi hidrokortison akan menaikan kadar glukossa darah.

Mineralikortikoid bekerja meningkatkan absorbsi ion natrium dalam prose pertukaran untuk mengekresikan ion kalium atau hidrogen.

Hormon seks adrenal ( androgen ) memberikan efek yang serupa dengan efek hormon seks pria.

Medula adrenal berfungsi sebagai bagian dari saraf otonom. Selain itu juga menghasilkan adrenalin da noradrenalin. Nor adrenalin menikan tekanan darah denga jalan merangsang serabut otot di dalam dinding pembuluh darah untuk berkontraksi, dan adrenalin membantu metabolisme karbohidrat dengan jalan menambah pengeluaran glukosa dari hati.

Fungsi kelenjar adrenal korteks :

ü  Mengatur keseimbangan air, elektrolit dan garam

ü  Mempengaruhi metabolisme lemak, hidrat arang, dan protein

ü  Mempengaruhi aktivitas jaringan limfoid

Fungsi kelenjar adrenal medula :

ü  Vasokontriksi pembuuh darah perifer

ü  Relaksasi bronkus

ü  Kontraksi selaput lendir dan arteriole

 

 

 

 

  1. Kelenjar Pankreas

Kelenjar ini terdapat di belakang lambung didepan vertebra lumbalis I dan II. Sebagai kelenjar eksokrin akan menghasilkan enzim-enzim pencernaan ke dalam lumen duodenum. Sedangkan Sebagai endokrin terdiri dari pulau-pulau Langerhans, menghasilkan hormon. Pulau langerhans berbentuk oval dan tersebar diseluruh pankreas. Fungsi pulau langerhans sebagai unit sekresi dalam pengeluaran homeostatik nutrisi, menghambat sekresi insulin, glikogen dan polipeptida. Pada manusia, mengandung 4 macam sel, yaitu :

sel A (atau α)               : menghasilkan glukagon

sel B (atau β)               : menghasilkan insulin

sel D (atau γ)               : menghasilkan somatostatin

sel F (sgt kecil)            : menghasilkan polipeptida pankreas

hormon insulin berguna untuk menurunkan gula darah, menggunakan dan menyimpan karbohidrat. Glukagon berfungsi untuk menaikan glukosa darah dengan jalan glikolisis. Sedangkan somatostatin berguna menurunkan glukosa darah dengan melepaskan hormon pertumbuhan dan glukagon.

 

  1. Kelenjar Kelamin

Dibagi menjadi 2, yaitu kelamin pria ( testis ) dan kelamin wanita ( ovarium ). Testis terletak di skrotum dan menghasilkan hormon testosteron. Hormon ini berfungsi dalam mengatur perkembangan ciri seks sekunder, dan merangsang pertumbuhan organ kelamin pria.

Sedangkan ovarium terdapat pada samping kiri dan kanan uterus, yang menghasilkan esterogen dan progesteron. Fungsi estrogen adalah pematangan dan fungsi siklus haid yang normal. Sedangkan fungsi hormon progesteron adalah pemliharaan kehamilan.

 

 

 

 

 

 

PATOFISIOLOGI SISTEM ENDOKRIN

 

  1. 2.     Pengkajian, Riwayat Kesehatan, Tanda dan Gejala Gangguan Sistem Endokrin, Pemeriksaan Fisik dan Diagnostik Sistem Endokrin

Pengkajian dan Riwayat Kesehatan

  1. Data Demografi

Usia dan jenis kelamin merupakan data dasar yang penting. Beberapa gangguan endokrin baru jelas dirasakan pada usia tertentu merupakan proses patologis sudah berlangsung sejak lama.

  1. Riwayat Kesehatan Keluarga

Mengkaji kemungkinan adanya anggota keluarga yang mengalami gangguan seperti yang di alami klien atau gangguan tertentu yang berhubungan secara langsumg dengan gangguan hormonal seperti:

ü  Obesitas

ü  Gangguan pertumbuhan dan perkembangan

ü  Kelainan pada kelenjar tiroid

ü  Diabetes melitus

ü  Infertilitas

Dalam mengidentifikasi informasi ini gunakan bahasa yang sederhana dan di mengerti oleh klien atau keluarga.

  1. Riwayat Kesehatan dan Keperawatan Klien

Perawat mengkaji kondisi yang pernah dialami oleh klien di luar gangguan yang dirasakan sekarang, misalnya :

ü  Tanda-tanda seks sekunder yang tidak berkembang, misalnya amenore, bulu rambut tidak tumbuh, buah dada tidak berkembang dan lain-lain.

ü  Berat badan yang tidak sesuai dengan usia, misalnya selalu kurus meskipun banyak makan dan lain-lain.

ü  Gangguan psikologis seperti mudah marah, sensitif, sulit bergaul dan tidak mampu berkonsentrasi, dan lain-lain.

ü  Hospitalisasi

ü  Juga informasi tentang penggunaan obat-obatan di saat sekarang dan masa lalu. Penggunaan obat ini mencakup obat yang di peroleh dari dokter atau petugas kesehatan atau obat yang di peroleh secara bebas. Jenis obat-obatan yang mengandung hormon atau yang dapat merangsang aktivitas hormonal seperti Hidrokortison, Levothyroxine, Kontrasepsi oral, dan obat-obatan anti Hipertensif.

  1. Riwayat Diit

ü  Adanya nausea, muntah dan nyeri abdomen

ü  Penurunan atau penambahan berat badan yang drastis

ü  Selera makan yang menurun atau bahkan berlebihan

ü  Pola makan dan minum sehari-hari

ü  Kebiasaan mengkonsumsi makanan yang dapat mengganggu fungsi endokrin seperti makanan yang bersifat goitrogenik terhadap kelenjar tiroid

  1. Status Sosial Ekonomi

Mendiskusikan bersama-sama bagaiman klien dan keluarganya memperoleh makanan yang sehat dan bergizi, upaya mendapatkan pengobatan bila klien dan keluarganya sakit dan upaya mempertahankan kesehatan klien dan keluarga tetap optimal dapat mengungkapkan keadaan sosial ekonomi klien dan menyimpulkan bersama-sama merupakan upaya untuk mengurangi kesalahan penafsiran

  1. Masalah Kesehatan Sekarang (keluhan utama)
  2. Pengkajian Psikososial

Perawat mengkaji keterampilan koping, dukungan keluarga, teman dan bagaimana keyakinan klien tentang sehat sakit. Sejumlah ganguan endokrin yang serius mempengaruhi persepsi klien terhadap dirinya sendiri oleh karena perubahan- perubahan yang dialami menyangkut perubahan fisik, fungsi seksual dan reproduksi dan lain-lain yang akan mempengaruhi konsep dirinya.

TANDA dan GEJALA GANGGUAN SISTEM ENDOKRIN

  1. Kulit kering, pecah-pecah, bersisik dan menebal
  2. Pembengkakan, tangan, mata dan wajah
  3. Rambut rontok, alopesia, kering dan pertumbuhannya buruk
  4. Tidak tahan dingin
  5. Pertumbuhan kuku buruk, kuku menebal
  6. Volume otot bertambah, glossomegali
  7. Kejang otot, kaku.
  8. Artralgia dan efusi sinovial
  9. Osteoporosis
  10. Pertumbuhan tulang terhambat pada usia muda
  11. Umur tulang tertinggal dibanding usia kronologis
    1. Kadar fosfatase alkali menurun
    2. Letargi dan mental menjadi lambat
    3. Aliran darah otak menurun
    4. Kejang, koma, dementia, psikosis (gangguan memori, perhatian kurang, penurunan reflek tendon)
    5. Tuli perseptif, rasa kecap, penciuman terganggu
    6. Bradikardi, disritmia, hipotensi
    7. Curah jantung menurun, gagal jantung
    8. Kardiomiopati di pembuluh. EKG menunjukkan gelombang T mendatar/inverse
    9. Penyakit jantung iskemic
    10. Hipotensilasi
    11. Efusi pleural
    12. Dispnea
    13. Konstipasi, anoreksia, peningkatan BB, distensi abdomen
    14. Obstruksi usus oleh efusi peritoneal
    15. Aklorhidria, antibody sel parietal gaster, anemia pernisiosa
    16. Aliran darah ginjal berkurang, GFR menurun
    17. Retensi air ( volume plasma berkurang )
    18. Hipokalsemia
    19. Anemia normokrom normositik
    20. Anemia mikrositik / makrositik
    21. Gangguan koagulasi ringan
    22. Pada perempuan terjadi perubahan menstruasi seperti amenore / masa menstruasi yang memanjang, menoragi dan galaktore dengan hiperprolaktemi
    23. Gangguan fertilitas
    24. Gangguan hormone pertumbuhan dan respon ACTH, hipofisis terhadap insulin akibat hipoglikem
    25. Gangguan sintesis kortison, kliren kortison menurun
    26. Insufisiensi kelenjar adrenal autoimun
    27. Psikologis / emosi : apatis, agitasi, depresi, paranoid, menarik diri, perilaku maniak
    28. Manifestasi klinis lain berupa : edema periorbita, wajah seperti bulan (moon face), wajah kasar, suara serak, pembesaran leher, lidah tebal, sensitifitas terhadap opioid, haluaran urin menurun, lemah, ekspresi wajah kosong dan lemah.

(Stevenson, J. C& Chahal, P, 1993: 52-53)

 

PEMERIKSAAN FISIK

Melalui pemeriksaan fisik ad dua aspek utama yang dapat di gambarkan yaitu :

a)    Kondisi kelenjar endokrin

b)   Kondisi jaringan atau organ sebagai dampak dari kondisi endokrin

INSPEKSI. PALPASI, AUSKULTASI

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK SISTEM ENDOKRIN

  1. Foto Tengkorak
  2. Foto Tulang
  3. CT scan Otak
  4. Dilakukan untuk melihat kemungkinan adanya tumor pada hipofise atu hipotalamus melalui komputerisasi.
  5. Pemeriksaan Darah dan Urin
  6. Kadar Growth Hormon
  7. Kadar Tiroid Stimulating Hormon (TSH)
  8. Kadar Adenokartiko Tropik (ACTH)
  9. Up take Radioaktif ( RAI )
  10. T3 dan T4 Serum
  11. Up take T3 Resin
  12. Protein Bound Iodine (PBI)
  13. Laju Metabolisme Basal (BMR)
  14. Percobaan Sulkowitch
  15. Percobaan Ellwort ±Howard
  16. Percobaan Kalsium Intravena
  17. Pemeriksaan Radiologi
  18. Pemeriksaan Elektrokardiogran ( EKG )
  19. Pemeriksaan Elektromiogram (EMG)
  20. PemeriksaanHemokonsentrasi darah
  21. Pemeriksaan Elektrolit Serum (Na, K,Cl)
  22. Percobaan Vanil Mandelic Acid (VMA)
  23. Stimulasi test

 

Inspeksi

Pertama-tama, amatilah penampilan umum klien apakah tampak kelemahan berat, sedang dan ringan dan sekaligus amati bentuk dan proporsi tubuh. Pada pemeriksaan wajah, fokuskan pada abnormalitas struktur, bentuk dan ekspresi wajah seperti bentuk dahi, rahang dan bibir. Pada mata amati adanya edema periorbita dan exopthalmus serta apakah ekspresi wajah datar atau tumpul. Amati lidah klien terhadap kelainan bebtuk dan penebalan, ada tidaknya tremor pada saat diam atau bila digerakkan. Didaerah leher, apakah leher tampak membesar, simetris atau tidak. Amati warna kulit (hiperpigmentasi atau hipopigmentasi) pada leher, apakah merata dan cacat lokasinya dengan jelas. Amati bentuk dan ukuran dada, pergerakan dan simetris tidaknya. Ketidakseimbangan hormonal khususnya hormon seks akan menyebabkan perubahan tanda seks sekunder, oleh sebab itu amati keadaan rambut axila dan dada. Pada buah dada amati bentuk dan ukuran, simetris tidaknya, pigmentasi dan adanya pengeluaran cairan. Striae pada buah dada atau abdomen sering dijumpai pada hiperfungsi adrenokortikal. Bentuk abdomen cembung akibat penumpukan lemak centripetal dijumopai pada hiperfungsi adrenokortikal.Pada pemeriksaan genetalia, amati kondisi skrotum dan penis juga klitoris dan labia terhadap kelainan bentuk.

Palpasi

Lakukan palpasi kelenjar tiroid perlobus dan kaji ukuran, nodul tunggal atau multipel, apakah ada rasa nyeri pada saat di palpasi. Pada saat melakukan pemeriksaan, klien duduk atau berdiri sama saja namun untuk menghindari kelelahan klien sebaiknya posisi duduk. Untuk hasil yang lebih baik, dalam melakukan palpasi pemeriksa berada dibelakang klien dengan posisi kedua ibu jari perawat dibagian belakang leher dan keempat jari-jari lain ada diatas kelenjar tiroid. Palpasi testes di lakukan dengan posisi tidur dan tangan perawat harus dalam keadaan hangat. Perawat memegang lembut began ibu jari dan dua jari lain, bandingkan yang satu dengan yang lainnya terhadap ukuran/besarnya, simetris tidaknya nodul. Normalnya testes teraba lembut, peka terhadap sinaar dan sinyal seperti karret.

Auskultasi dan Pengukuran Darah

Auskultasi pada daerah leher, diatas kelenjar tiroid dapat mengidentifikasi bruit. Bruit adalah bunyi yang dihasilkan oleh karena turbulensi pada pembuluh darah tiroidea. Dalam keadaan normal, bunyi ini tidak terdengar. Dapat diidentifikasi bila terjadipeningkatan sirkulasi darah ke kelenjar tiroid sebagai dampak peningkatan aktivitas kelenjar tiroid. Auskultasi dapat pula dilakukan untuk mengidentifikasi perubahan pada pembuluh darah dan jantung seperti tekanan darah, ritme dan rate jantung yang dapat menggambarkan gangguan keseimbangan cairan, perangsangan katekolamin dan perubahan metabilisme tubuh.

 

  1. 3.     PEMERIKSAAN STIMULASI / SUPRESI, RADIOIMUNOASSAY, PEMERIKSAAN URINE, GLUKOSA, T3, T4, BMR
    1. a.      Pemeriksaan Stimulasi / Supresi

Stimulasi Test

Dimaksudkan untuk mengevaluasi dan mendeteksi hipofungsi adrenal. Dapat dilakukan terhadap kortisol dengan pemberian ACTH. Stimulasi terhadap aldosteron dengan pemberian sodium.

  1. b.      Radioimunoassay

Radioimunoassay (RIA) merupakan suatu teknik analisa yang balk untuk diagnoses fungsi tiroid. Teknik RIA yang telah digunakan secara rutin adalah RIA yang menggunakan metoda pemisahan fasa cair, misalnya pengendapan dengan polietilen glikol. Dewasa ini perhatian telah diarahkan pada teknik RIA fasa padat.

 

Pada penelitian ini dilakukan teknik RIA fasa padat dengan mengikatkan antibodi secara kimia pada dinding tabung plastik sebelah dalam yang sebelumnya telah dilapisi glutaraldehid. Antibodi yang akan ditempelkan terlebih dahulu dimurnikan secara kromatografi afinitas yang menggunakan protein A sepharosa sebagai kolom. Selanjutnya ditentukan kadar antibodi yang akan ditempelkan dengan melakukan titer antibodi secara fasa padat.

 

Dilakukan kontrol untuk setiap parameter parcobaan untuk mendapatkan hasil analisa yang optimal. Disain assay (penentuan) dilakukan terhadap volume larutan baku, waktu dan temperatur inkubasi untuk mengetahui kepekaan dan untuk mendapatkan daerah kerja yang diinginkan.

 

Dari data yang diperoleh ternyata dengan menambahkan 20 ul larutan baku T4/cuplikan, 300 ul T4 bertanda 1251 pada tabung yang telah dilapisi dengan antibodi dan diinkubasi selama 24 jam pada suhu 25 C memberikan hasil yang cukup balk pada daerah kerja 14 – 780 nmol/l. Penentuan besaran karakteristik yang dilakukan adalah : besar ikatan non spesif1k (N5B), besar ikatan maksimum (% Bo/T), konsentrasi pada 50 % B/Bo, harga cuplikan kontrol, koefisien variansi antar penentuan cuplikan kontrol dan uji kestabilan.

 

 

  1. c.       Pemeriksaan Urine (Percobaan Sulkowitch)

 

Dilakukan untuk memeriksa perubahan jumlah kalsium dalam urine, sehingga dapat diketahui aktivitas kelenjar paratiroid. Percobaan dilakukan dengan menggunakan Reagens Sulkowitch. Bila pada percobaan tidak terdapat endapan maka kadar kalsium, plasma diperkirakan antara 5 mg/dl. Endapan sedikit (Fine white cloud) menunjukan kadar kalsium darah normal (6 ml/dl). Bila endapan banyak, kadar kalsium tinggi.

èPersiapan

      Urine 24 jam ditampung.

      Makanan rendah kalsium 2 hari berturut-turut

èPelaksanaan

      Masukkan urine 3 ml kedalam tabung (2 tabung)

      Kedalam tabung pertama dimasukkan reagens sulkowitch 3 ml, tabung kedua hanya sebagai kontrol.

èPembacaan hasil secara kwantitatif :

   Negatif (-) : Tidak terjadi kekeruhan.

   Positif (+) : Terjadi kekeruhan yang halus.

   Positif (++) : Kekeruhan sedang

   Positif (+++) : Kekeruhan banyak timbul dalam waktu kurang dari 20 detik.

   Positif (++++) : Kekeruhan hebat, terjadi seketika.

 

  1. d.      Pemeriksaan Glukosa

Jenis pemeriksaannya adalah gula darah puasa. Bertujuan untuk menilai kadar gula darah setelah puasa selama 8-10 jam.

Nilai normal :

      Dewasa                : 70-110 md/dl

      Bayi                      : 50-80 mg/d

      Anak-anak            : 60-100 mg/dl

 

 

Persiapan

      Klien dipuasakan sebelum pemeriksaan dilakukan.

      Jelaskan tujuan prosedur pemeriksaan.

Pelaksanaan

      Spesimen adalah darah vena lebih kurang 5 s/d 10 cc.

      Gunakan anti koagulasi bila pemeriksan tidak dapat dilakukan segera.

      Bila klien mendapat pengobatan insulin atau oral hipoglikemik untuk sementara tidak diberikan.

      Setelah pengambilan darah, klien diberi makan dan minum serta obat-obatan sesuai program.

Gula darah 2 jam setelah makan. Sering disingkat dengan gula darah 2 jam PP (post prandial). Bertujuan untuk menilai kadar gula darah 2 jam setelah makan. Dapat dilakukan secara bersamaan dengan pemeriksaan gula darah puasa artinya setelah pengambilan gula darah puasa, kemudian klien disuruh makan menghabiskan porsi yang biasa lalu setelah 2 jam kemudian dilakukan pengukuran kadar gula darahnya. Atau bisa juga dilakukan secara terpisah tergantung pada kondisi klien.

  1. e.       T3 dan T4 Serum

Persiapan fisik secara khusus tidak ada. Spesimen yang dibutuhkan adalah darah vena sebanyak 5-10 cc.

  1. Nilai normal pada orang dewasa:

      Jodium bebas : 0.1-0.6 mg/dl

      T3 : 0.2-0.3 mg/dl

      T4 :6-12 mg/dl

  1. Nilai normal pada bayi/anak:

      T3 : 180-240 mg/dl

 

 

 

 

  1. f.        BMR (Basal Metabolic Rate)

Tujuan: pengukuran secara tidak langsung jumlah oksigen yang dibutuhkan di bawah kondisi basal selama beberapa waktu

Persiapan :

      Klien puasa 12 jam

      Hindari kondisi yang menimbulkan kecemasan dan stress

      Klien harus tidur sedikit nya 8 jam

      Tidak mengkonsumsi analgetik & sedative

      Jelaskan pada klien tujuan pemeriksaandan prosedur nya

      Tidak boleh bangun dari tempat tidur sampai pemeriksaan di lakukan

Penatalaksanaan

Pengukuran kalorimetri dengan menggunakan metabolator. Nilai normal :

        Pria 53 kalori perjam

        Wanita 60 kalori perjam

Metode Harris Benedict Untuk Mengukur BMR

Pria                 : BMR = 66 + (13,7 x BB(kg) ) + ( 5 x TB(cm) ) +(6,8 x U(thn) )

Wanita            : BMR = 665 + (9,6 x BB(kg) + (1,8 x TB (cm) ) + (4,7 x U (thn) )

 

  1. 4.    Pemeriksaan Radiologi

Persiapan khusus tidak ada. Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat kemungkinan adanya kalsifikasi tulang, penipisin dan osteoporosis. Pada hipotiroid, dapat dijumpai kalsifikasi bilateral pada dasar tengkorak. Densitas tulang bisa normal atau meningkat. Pada hipertiroid, tulang menipis, terbentuk kista dalam tulang serta tuberculae pada tulang.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: