probouut

Just another WordPress.com site

SISTEM PENDENGARAN

  1. 1.        ANATOMI, FISIOLOGI, PATOFISIOLOGI SISTEM PENDENGARAN

Definisi :

Telinga merupakan organ pendengaran sekaligus juga organ keseimbangan.

Anatomi Telinga Luar

Telinga luar, terdiri dari aurikula (atau pinna) dan kanalis auditorius eksternus, dipisahkan dari telinga tengah oleh struktur seperti cakram yang dinamakan membran timpani (gendang telinga). Telinga terletak pada kedua sisi kepala kurang lebih setinggi mata. Aurikulus melekat ke sisi kepala oleh kulit dan tersusun terutama oleh kartilago, kecuali lemak dan jaringan bawah kulit pada lobus telinga. Aurikulus membantu pengumpulan gelombang suara dan perjalanannya sepanjang kanalis auditorius eksternus. Tepat di depan meatus auditorius eksternus adalah sendi temporal mandibular. Kaput mandibula dapat dirasakan dengan meletakkan ujung jari di meatus auditorius eksternus ketika membuka dan menutup mulut. Kanalis auditorius eksternus panjangnya sekitar 2,5 sentimeter. Sepertiga lateral mempunyai kerangka kartilago dan fibrosa padat di mana kulit terlekat. Dua pertiga medial tersusun atas tulang yang dilapisi kulit tipis. Kanalis auditorius eksternus berakhir pada membrana timpani. Kulit dalam kanal mengandung kelenjar khusus, glandula seruminosa, yang mensekresi substansi seperti lilin yang disebut serumen. Mekanisme pembersihan diri telinga mendorong sel kulit tua dan serumen ke bagian luar tetinga. Serumen nampaknya mempunyai sifat antibakteri dan memberikan perlindungan bagi kulit.

 

Anatomi Telinga Tengah

Telinga tengah tersusun atas membran timpani (gendang telinga) di sebelah lateral dan kapsul otik di sebelah medial celah telinga tengah terletak di antara kedua membran timpani terletak pada akhiran kanalis aurius eksternus dan menandai batas lateral telinga, Membran ini sekitar 1 cm dan selaput tipis normalnya berwarna kelabu mutiara dan translulen.Telinga tengah merupakan rongga berisi udara merupakan rumah bagi osikuli (tulang telinga tengah) dihubungkan dengan tuba eustachii ke nasofaring berhubungan dengan beberapa sel berisi udara di bagian mastoid tulang temporal. Telinga tengah mengandung tulang terkecil (osikuli) yaitu malleus, inkus stapes. Osikuli dipertahankan pada tempatnya oleh sendian, otot, dan ligamen, yang membantu hantaran suara. Ada dua jendela kecil (jendela oval dan dinding medial telinga tengah), yang memisahkan telinga tengah dengan telinga dalam. Bagian dataran kaki menjejak pada jendela oval, di mana suara dihantar telinga tengah. Jendela bulat memberikan jalan ke getaran suara. Jendela bulat ditutupi oleh membran sangat tipis, dan dataran kaki stapes ditahan oleh yang agak tipis, atau struktur berbentuk cincin. Anulus jendela bulat maupun jendela oval mudah mengalami robekan. Bila ini terjadi, cairan dari dalam dapat mengalami kebocoran ke telinga tengah kondisi ini dinamakan fistula perilimfe. Tuba eustachii yang lebarnya sekitar 1 mm dan panjangnya sekitar 35 mm, menghubungkan telinga ke nasofaring. Normalnya, tuba eustachii tertutup, namun dapat terbuka akibat kontraksi otot palatum ketika melakukan manuver Valsalva atau menguap atau menelan. Tuba berfungsi sebagai drainase untuk sekresi dan menyeimbangkan tekanan dalam telinga tengah dengan tekanan atmosfer.

 

Anatomi Telinga Dalam

Telinga dalam tertanam jauh di dalam bagian tulang temporal. Organ untuk pendengaran (koklea) dan keseimbangan (kanalis semisirkularis), begitu juga kranial VII (nervus fasialis) dan VIII (nervus koklea vestibularis) semuanya merupakan bagian dari komplek anatomi. Koklea dan kanalis semisirkularis bersama menyusun tulang labirint. Di dalam lulang labirin terendam dalam cairan yang dinamakan perilimfe, yang berhubungan langsung dengan cairan serebrospinal dalam otak melalui aquaduktus koklearis. Labirin membranosa tersusun atas utrikulus, akulus, dan kanalis semisirkularis, duktus koklearis, dan organan Corti. Labirin membranosa memegang cairan yang dinamakan endolimfe. Terdapat keseimbangan yang sangat tepat antara perilimfe dan endolimfe dalam telinga dalam, banyak kelainan telinga dalam terjadi bila keseimbangan ini terganggu. Percepatan angular menyebabkan gerakan dalam cairan telinga dalam di dalam kanalis dan merangsang sel-sel rambut labirin membranosa. Akibatnya terjadi aktivitas elektris yang berjalan sepanjang cabang vestibular nervus kranialis VIII ke otak. Perubahan posisi kepala dan percepatan linear merangsang sel-sel rambut utrikulus. Ini juga mengakibatkan aktivitas elektris yang akan dihantarkan ke otak oleh nervus kranialis VIII. Di dalam kanalis auditorius internus, nervus koklearis, yang muncul dari koklea, bergabung dengan nervus vestibularis, yang muncul dari kanalis semisirkularis, utrikulus, dan sakulus, menjadi nervus koklearis (nervus kranialis VIII). Yang bergabung dengan nervus ini di dalam kanalis auditorius internus adalah nervus fasialis (nervus kranialis VII). Kanalis auditorius internus mem-bawa nervus tersebut dan asupan darah ke batang otak.

 

 

FISIOLOGI

Pendengaran dapat terjadi dalam dua cara. Bunyi yang dihantarkan melalui telinga luar dan tengah yang terisi udara berjalan melalui konduksi udara. Suara yang dihantararkan melalui tulang secara langsung ke telinga dalam dengan cara konduksi tulang. Normalnya, konduksi udara merupakan jalur yang lebih efisien, namun adanya defek pada membrana timpani atau terputusnya rantai osikulus akan memutuskan konduksi udara normal dan mengakibatkan hilangnya rasio tekanan-suara dan kehilangan pendengaran konduktif. Untuk memahami fisiologi pendengaran perlu diketahui tentang bunyi. Bunyi terjadi disebabkan oleh adanya sumber bunyi, media penghantar gelombang suara serta adanya reseptor penerima informasi tersebut. Sumber bunyi akan menghasilkan tekanan gelombang suara. Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun telinga, dalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang ke koklea. Daun telinga berfungsi untuk menangkap serta menghimpun gelombang bunyi yang datang dari luar untuk kemudian diarahkan ke liang telinga dan selanjutnya bersama liang telinga tersebut menyebabkan naiknya tekanan akustik sebesar 10 – 15 dB pada membran timpani. Setelah sampai di membran timpani, getaran diteruskan ke telinga tengah. Fungsi organ dalam telinga tengah selain untuk meneruskan gelombang bunyi, juga memproses energi bunyi tersebut sebelum memasuki koklea. Dalam telinga tengah, energi bunyi mengalami amplifikasi melalui sistem rangkaian tulang pendengaran. Setelah diamplifikasi, energi tersebut akan diteruskan ke stapes, yang menggerakkan tingkap lonjong sehingga perilimfe pada skala vestibuli bergerak. Getaran diteruskan melalui membran Reissner, yang mendorong endolimfe, sehingga akan menimbulkan gerak relatif antara membran basilaris dan membran tektoria. Proses ini merupakan rangsang mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel – sel rambut, sehingga terjadi pelepasan ion – ion bermuatan listrik. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut sehingga melepaskan neurotransmiter ke dalam sinaps dan menghasilkan potensial aksi yang kemudian diteruskan ke serabut – serabut N.VIII menuju nukleus koklearis sampai ke korteks pendengaran.

 

 

 

 

 

 

PATOFISIOLOGI

 

  1. 2.        PENGKAJIAN, RIWAYAT KESEHATAN, TANDA dan GEJALA SISTEM PENDENGARAN

Pengkajian

Anamnesa

  • Kaji riwayat dari gejala- gejala (misal: gatal, nyeri, bengkak).
  • Tanyakan adanya nyeri telinga.
  • Tanyakan adanya cairan yang mengalir dari telinga, warna, jumlah, konssistensi kekentalan cairan.
  • Tanyakan faktor-faktor yang memperberat (riwayat ketulian, riwayat sering mengorek kuping dengan japit, sering menyiram telinga dengan air).

Kaji fakor-faktor yang berhubungan :

  • Adanya faktor penyebab (misal kurangnya perawatan dan seringnya mengorek telinga dengan japit dan adanya riwayat tuli).
  • Faktor-faktor lingkungan (misal: lingkungan yang bising dan ramai)

Riwayat kesehatan

  • Riwayat Kesehatan Sekarang.

Kapan keluhan mulai berkembang, bagaimana terjadinya, apakah secara tiba-tiba atau berangsur-angsur, apa tindakan yang dilakukan untuk mengurangi keluhan, obat apa yang digunakan, adakah keluhan seperti pilek dan batuk.

  • Riwayat Kesehatan Masa Lalu.

Apakah ada kebiasaan berenang, apakah pernah menderita gangguan pendengaran (kapan, berapa lama, pengobatan apa yang dilakukan, bagaimana kebiasaan membersihkan telinga, keadaan lingkungan tenan, daerah industri, daerah polusi), apakah riwayat pada anggota keluarga.

 

Tanda dan Gejala gangguan Sistem Pendengaran

Presbiakusis adalah penurunan pendengaran normal berkenaan dengan proses penuaan. (Lueckenotte, 1997).

Tanda dan Gejala:

a)      Kesulitan mengerti pembicaraan.

b)      Ketidakmampuan untuk mendengarkan bunyi-bunyi dengan nada tinggi.

c)      Kesulitan membedakan pembicaraan; bunyi bicara lain yang parau atau bergumam.

d)     Latar belakang bunyi berdering atau berdesis yang konstan.

e)      Perubahan kemampuan mendengar konsonan seperti s, z, t, f dan g.

f)       Suara vokal yang frekuensinya rendah seperti a, e, i, o, u umumnya relatif diterima dengan lengkap. (Luekenotte, 1997)

 

TEKNIK PEMERIKSAAN TELINGA LUAR dan MASTOID

Telinga luar

Diperiksa dengan inspeksi dan palpasi langsung sementara membrana timpani diinspeksi, seperti telinga tengah dengan otoskop dan palpasi tak langsung dengan menggunakan otoskop pneumatic.

Pengkajian Fisik.

Inspeksi telinga luar merupakan prosedur yang paling sederhana tapi sering terlewat. Aurikulus dan jaringan sekitarnya diinspeksi adanya

a)      deformitas, lesi,

b)      cairan begitu pula ukuran,

c)      simetris dan sudut penempelan ke kepala.

Gerakan aurikulus normalnya tak menimbulkan nyeri. Bila manuver ini terasa nyeri, harus dicurigai adanya otitis eksterna akut.

Mastoid

Nyeri tekan pada saat palpasi di daerah mastoid dapat menunjukkan mastoiditis akut atau inflamasi nodus auri-kula posterior. Terkadang, kista sebaseus dan tofus (deposit mineral subkutan) terdapat pada pinna. Kulit bersisik pada atau di belakang aurikulus biasanya menunjukkan adanya dermatitis sebore dan dapat terdapat pula di kulit kepala dan struktur wajah.

 

TEKNIK PEMERIKSAAN OTOSKOP

a)      Untuk memeriksa kanalis auditorius eksternus dan membrana timpani, kepala pasien sedikit dijauhkan dari pemeriksa.

b)      Otoskop dipegang dengan satu tangan sementara aurikulus dipegang dengan tangan lainnya dengan mantap dan ditarik ke atas, ke belakang dan sedikit ke luar. Cara ini akan membuat lurus kanal pada orang dewasa, sehingga memungkinkan pemeriksa melihat lebih jelas membrana timpani.

c)      Spekulum dimasukkan dengan lembut dan perlahan ke kanalis telinga, dan mata didekatkan ke lensa pembesar otoskop untuk melihat kanalis dan membrana timpani. Spekulum terbesar yang dapat dimasukkan ke telinga (biasanya 5 mm pada orang dewasa) dipandu dengan lembut ke bawah ke kanal dan agak ke depan. Karena bagian distal kanalis adalah tulang dan ditutupi selapis epitel yang sensitif, maka tekanan harus benar-benar ringan agar tidak menimbulkan nyeri.

d)     Setiap adanya cairan, inflamasi, atau benda asing dalam kanalis auditorius eksternus dicatat.

e)      Membrana timpani sehat berwarna mutiara keabuan pada dasar kanalis. Penanda harus dilihat mungkin pars tensa dan kerucut cahaya, manubrium mallei, dan prosesus brevis.

f)       Gerakan memutar lambat spekulum memungkinkan penglihat lebih jauh pada lipatan malleus dan daerah perifer. Dan warna membran begitu juga tanda yang tak biasa. Adanya cairan, gelembung udara, atau masa di telinga tengah harus dicatat.

g)      Pemeriksaan otoskop kanalis auditorius eksternus membrana timpani yang baik hanya dapat dilakukan bila kanalis tidak terisi serumen yang besar. Serumen normalnya terdapat di kanalis eksternus, dan bila jumlah sedikit tidak akan mengganggu pemeriksaan otoskop.

h)      Bila serumen sangat lengket maka sedikit minyak mineral atau pelunak serumen dapat diteteskan dalam kanalis telinga dan pasien diinstruksikan kembali lagi.

 

TEKNIK UJI PENDENGARAN

Tujuan

Mengetahui keadaan telinga luar, saluran telinga, gendang telinga dan fungsi pendengaran.

  1. A.    Menggunakan Bisikan

a)         Atur posisi klien membelakangi pemeriksa pada jarak 4-6 m.

b)        Instruksikan klien untuk menutup salah satu telinga yang tidak diperiksa.

c)         Bisikkan suatu bilangan, misal ”tujuh enam”.

d)        Minta klien untuk mengulangi bilangan yang didengar.

e)         Periksa telinga lainnya dengan cara yang sama.

f)         Bandingkan kemampuan mendengar telinga kanan dan kiri klien.

  1. B.     Watch Test

a)         Ciptakan suasana ruangan yang tenang.

b)        Pegang arloji dan dekatkan ke telinga klien.

c)         Minta klien untuk memberi tahu pemeriksa jika ia mendengar detak arloji.

d)        Pindahkan posisi arloji perlahan-lahan menjauhi telinga dan minta klien untuk memberitahu pemeriksa jika ia tidak mendengar detak arloji. Normalnya klien masih mendengar sampai jarak 30 cm dari telinga.

  1. C.    Garpu Talla (Pemeriksaan Rinne)

a)      Pegang garpu talla pada tangkainya dan pukulkan ke telapak tangan atau buku jari tangan yang berlawanan.

b)      Letakkan tangkai garpu talla pada prosesus mastoideus klien.

c)      Anjurkan klien untuk memberi tahu pemeriksa jika ia tidak merasakan getaran lagi.

d)     Angkat garpu talla dan dengan cepat tempatkan di depan lubang telinga klien 1-2 cm dengan posisi garpu talla paralel terhadap lubang telinga luar klien.

e)      Instruksikan klien untuk memberitahu apakah ia masih mendengar suara atau tidak.

f)       Catat hasil pendengaran pemeriksaan tersebut.

 

TEKNIK ROMBERG TEST dan HELPICK PICK MANUVER

Tes Romberg

Adalah suatu cara untuk melihat adanya kelemahan pada vestibular.

Cara:

a)      Pasien diinstruksikan untuk berdiri dan membuka mata.

b)      Kemudian pasien diinstruksikan untuk menutup mata (pastikan anda dapat menopang pasien jika dia jatuh).

c)      Kemudian perhatikan apakah pasien terlalu banyak bergoyang atau kehilangan keseimbangan.

Indikasi: jika pasien menutup mata kemudian jatuh, hal ini mengindikasikan adanya kelemahan pada proprioseptif atau vestibular.

Helpick Pick Manuver

Adalah Tes Neurologi yang digunakan untuk mengevaluasi adanya vertigo, misalnya vertigo paroksismal jinak posisional, dengan mengamatibvnystagmus disebabkan oleh perubahan posisi.

Manuver  Hallpike digunakan untuk membantu mendiagnosis vertigo posisional paroksismal jinak (BPPV).

 

 

Cara :

a)      Tempatkan kepala pada brankar dari tempat tidur ke bawah datar.

b)      Ubah posisi pasien sehingga ia duduk 12 inci atau lebih dekat ke arah kepala ranjang dorong datar.

c)      Putar kepala pasien 45 derajat.
Bantu pasien berbaring ke belakang dengan cepat.

d)     Kepala pasien harus menggantung di tepi ranjang dorong pada sekitar 20 derajat ekstensi.

e)      Amati nystagmus rotasi setelah periode laten 5-10 detik, yang menegaskan BPPV.

Sering ditemukan dua hal menantang dalam maneuver :

  1. Pasien sering tidak ingin dipindahkan sambil merasakan nauseously. Ini bahkan termasuk mencoba untuk memposisikan pasien duduk lebih dekat dari kepala ke tempat tidur. Hal ini mengharuskan mereka untuk melihat ke belakang mereka untuk memastikan kemana mereka akan pergi, yang memicu vertigo lagi.
    bagi manuver Dix-Hallpike.

PROSEDUR DIAGNOSTIK

  1. AUDIOMETRI

Audiometri adalah pemeriksaan untuk menentukan jenis dan derajat ketulian (gangguan dengar).

Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan jenis ketulian apakah :

  • • Tuli Konduktif
  • • Tuli Saraf (Sensorineural)

Serta derajat ketulian.

Audiometer adalah peralatan elektronik untuk menguji pendengaran. Audiometer diperlukan untuk mengukur ketajaman pendengaran: • digunakan untuk mengukur ambang pendengaran • mengindikasikan kehilangan pendengaran • pembacaan dapat dilakukan secara manual atau otomatis • mencatat kemampuan pendengaran setiap telinga pada deret frekuensi yang berbeda • menghasilkan audiogram (grafik ambang pendengaran untuk masing-masing telinga pada suatu rentang frekuensi) • pengujian perlu dilakukan di dalam ruangan kedap bunyi namun di ruang yang heningpun hasilnya memuaskan • berbiaya sedang namun dibutuhkan hanya jika kebisingan merupakan masalah/kejadian yang terus-menerus, atau selain itu dapat menggunakan fasilitas di rumah sakit setemapat.

  1. RADIOGRAFI

Radiografi ialah penggunaan sinar pengionan (sinar X, sinar gama) untuk membentuk bayangan benda yang dikaji pada film. Radiografi umumnya digunakan untuk melihat benda tak tembus pandang, misalnya bagian dalam tubuh manusia. Gambaran benda yang diambil dengan radiografi disebut radiograf. Radiografi lazim digunakan pada berbagai bidang, terutama pengobatan dan industri.

 

  1. MRI (Magnetic Resonance Imaging)

Pencitraan resonansi magnetik (bahasa Inggris: Magnetic Resonance Imaging, MRI) ialah gambaran potongan cara singkat badan yang diambil dengan menggunakan daya magnet yang kuat mengelilingi anggota badan tersebut. Berbeda dengan “CT scan”, MRI tidak memberikan rasa sakit akibat radiasi karena tidak digunakannya sinar-X dalam proses tersebut.

Magnetic Resonance Imaging (MRI) merupakan suatu teknik yang digunakan untuk menghasilkan gambar organ dalam pada organisme hidup dan juga untuk menemukan jumlah kandungan air dalam struktur geologi. Biasa digunakan untuk menggambarkan secara patologi atau perubahan fisiologi otot hidup dan juga memperkirakan ketelusan batu kepada hidrokarbon.

Cara kerja MRI

  1. Pertama, putaran nukleus atom molekul otot diselarikan dengan menggunakan medan magnet yang berkekuatan tinggi.
  2. Kemudian, denyutan / pulsa frekuensi radio dikenakan pada tingkat menegak kepada garis medan magnet agar sebagian nuklei hidrogen bertukar arah.
  3. Selepas itu, frekuensi radio akan dimatikan menyebabkan nuklei berganti pada konfigurasi awal. Ketika ini terjadi, tenaga frekuensi radio dibebaskan yang dapat ditemukan oleh gegelung yang mengelilingi pasien.
  4. Sinyal ini dicatat dan data yang dihasilkan diproses oleh komputer untuk menghasilkan gambar otot.

Kelebihan MRI

Salah satu kelebihan tinjau MRI adalah, menurut pengetahuan pengobatan masa kini, tidak berbahaya kepada orang yang sakit. Berbanding dengan CT scans “computed axial tomography” yang menggunakan aksial tomografi berkomputer yang melibatkan dos radiasi mengion, MRI hanya menggunakan medan magnet kuat dan radiasi tidak mengion “non-ionizing” dalam jalur frekuensi radio. Bagaimanapun, perlu diketahui bahwa orang sakit yang membawa benda asing logam (seperti serpihan peluru) atau implant terbenam (seperti tulang Titanium buatan, atau pacemaker) tidak boleh dipindai di dalam mesin MRI, disebabkan penggunaan medan megnet yang kuat.

Satu lagi kelebihan scan MRI adalah kualitas gambar yang diperoleh biasanya mempunyai resolusi lebih baik berbanding CT scan. Lebih-lebih lagi untuk scan otak dan tulang belakang walaupun mesti dicatat bahwa CT scan kadangkala lebih berguna untuk cacat tulang.

 

  1. TYMPANOMETRI

Tympanometry adalah pemeriksaan obyektif yang digunakan untuk mengetahui kondisi telinga tengah dan mobilitas gendang telinga (tympanic membrane) dan tulang-tulang pendengaran di telinga tengah, dengan memberikan tekanan udara yang berbeda di liang telinga.

Tes diberikan dengan memasukkan sebuah alat pada liang telinga yang akan merubah tekanan didalam telinga, memberikan nada murni, dan mengukur respon gendang telinga terhadap suara dan perbedaan tekanan.

Hasilnya akan ditunjukkan dalam bentuk kurva yang disebut: Tympanogram. Tympanogram tipe A dianggap normal, yang artinya tekanan normal di telinga tengah dengan mobilitas gendang telinga dan kondisi tulang-tulang yang normal. Tympanogram tipe B atau C mungkin menunjukkan cairan di telinga tengah, parut pada gendang telinga, kurangnya hubungan antara tulang-tulang pendengaran pada telinga tengah atau tumor pada telinga tengah.

Tympanometry sendiri bukanlah tes pendengaran tetapi komponen penting dari evaluasi audiometri. Pada beberapa kasus dapat memberikan petunjuk jenis gangguan pendengaran yang diderita.

Tympanometer (alat untuk melakukan tympanometry) seringkali meliputi tes-tes lain seperti Acoustic Reflex (AR), Reflex Decay dan Eustachian Tube Function (ETF).

Jika suara keras diberikan ke telinga, saraf yang melalui telinga tengah dan berhubungan dengan tulang-tulang pendengaran di telinga tengah akan berkontraksi dan rangkaian tulang-tulang telinga tengah menjadi kaku. Tes reflek akustik dapat membantu untuk mengevaluasi tingkat ganguan pendengaran dan mengetahui letak masalah pendengaran. Hal ini juga bagian dari proses identifikasi dari Central Auditory Processing Disorders (CAPD).

Reflex Decay menentukan untuk berapa lama Acoustic Reflex / Reflek Akustik berlangsung. Hal ini dapat digunakan untuk mengetahui jika ada gangguan saraf pendengaran.

Eustachian Tube / Tuba Eusthasius menghubungkan telinga tengah dan tenggorokan yang mempunyai tujuan menyeimbangkan tekanan udara ditelinga tengah dan luar serta merupakan ventilasi pada telinga tengah. Tes ETF / Fungsi Tuba Eusthasius dapat digunakan untuk mengetahui jika fungsi tuba eusthasius normal.

 

Uji Fungsi Vestibulum (Menguji Keseimbangan)

Pada vestibulum terdapat 5 muara kanalis semisirkularis dimana kanalis superior dan posterior bersatu membentuk krus kommune sebelum memasuki vestibulum.

Berdiri. Pasien ataksia yang diminta berdiri dengan kedua kaki bersamaan dapat memperlihatkan keengganan atau ketidak mampuan untuk melakukannya. Dengan desakan persisten, pasien secara berangsur-angsur bergerak dengan kaki saling medekat tapi akan meninggalkan ruang antar keduanya. Pasien dengan ataksia sensorik dan beberapa dengan ataksia vesetibular, meskipun pada akhirnya mampu untuk berdiri dengan kedua kakinya, kompensasi terhadap kehilangan satu sumber input sensorius (proprioceptif atau labyrintin) dengan yang mekanisme lain (yaitu visual). Kompensasi ini diperlihatkan pada saat pasien menutup mata, mengeliminasi isyarat visual. Dengan gangguan sensorius atau vestibular, keadaan tidak stabil meningkat dan dapat mengakibatkan pasien jatuh (tanda Romberg). Dengan lesi vestibular, kecenderungan untuk jatuh kesisi lesi. Pasien dengan ataksi serebelar tidak mampu mengadakan kompensasi terhadap defisit dengan menggunakan input visual dan ketidak mampuan pada tungkai mereka apakah pada saat mata tertutup ataupun terbuka.

Melangkah. Langkah terlihat dalam ataksia serebelar dengan dasar-luas, sering dengan keadaan terhuyung-huyung dan dapat diduga sedang mabuk. Osilasi kepala dan trunkus (titubasi) dapat juga ada. Jika lesi hemisfer serebelar unilateral yang bertanggung jawab, maka kecenderungan yang terjadi adalah deviasi kearah sisi lesi saat pasien mencoba untuk berjalan pada garis lurus atau lingkaran atau berbaris pada tempat dengan mata tertutup. Langkah tandem (tumit ke jari kaki).

Pada ataksia sensorius langkah juga dengan dasar-lebar dan langkah tandem rendah. Sebagai tambahan, saat berjalan khas dikarakteristik oleh mengangkat kaki tinggi dari tanah dan membanting kebawah dengan kuat (steppage gait) karena kerusakan proprioceptif. Stabilitas dapat diperbaiki secara dramatikal dengan membiarkan pasien menggunakan tongkat atau sedikit mengistirahatkan tangan pada lengan pemeriksa untuk sokongan. Jika pasien dapat berjalan dalam gelap atau dengan mata tertutup, gait lebih banyak lagi dipengaruhi. Gait ataksia dapat juga menjadi manifestasi dari gangguan konversi (gangguan konversi dengan gejala motorik atau difisit) atau malinggering. Membedakannya sangat sulit, isolasi gait ataksia tanpa ataksia dari tungkai pasien dapat dihasilkan oleh penyakit yang mempengaruhi vermis serebelar superior. Observasi yang sangat membantu dalam mengidentifikasi fakta gait ataksia yang dapat menyebabkan ketidak stabilan pada pasien dengan langkah terhuyung-huyung, dapat mengalami perbaikan dalam kemampuan mereka tanpa jatuh. Perbaikan keseimbangan dari posisi yang tidak stabil, membutuhkan fungsi keseimbangan yang sempurna.

 

Tinggalkan komentar »

SISTEM PENGLIHATAN

  1. 1.      Anatomi, Fisiologi, dan Patofisiologi Sistem Penglihatan

ANATOMI SISTEM PENGLIHATAN

  1. Fungsi Mata

Menerima rangsangan berkas cahaya pada retina dengan perantaraan serabut nervus optikus, menghantarkan rangsangan ini ke pusat penglihatan pada otak untuk ditafsirkan.

  1. Bagian-Bagian Mata :
    1. Bola Mata : Berdiameter ± 2,5 cm dimana 5/6 bagiannya terbenam dalam rongga mata, dan hanya 1/6 bagiannya saja yang tampak pada bagian luar.
    2. Sklera : Melindungi bola mata dari kerusakan mekanis dan menjadi tempat melekatnya bola mata
    3. Otot-otot yang melekat pada mata :

èmuskulus rektus superior : menggerakan mata ke atas.
èmuskulus rektus inferior : mengerakan mata ke bawah.

  1. Kornea : Memungkinkan lewatnya cahaya dan merefraksikan cahaya.
  2. Badan Siliaris : Menyokong lensa, membantu lensa untuk beroakomodasi, berfungsi juga untuk mengsekresikan aqueus humor.
  3. Iris : Mengendalikan cahaya yang masuk ke mata melalui pupil, mengandung pigmen.
  4. Lensa : Memfokuskan pandangan dengan mengubah bentuk lensa
  5. Bintik kuning (Fovea) : Bagian retina yang mengandung sel kerucut
  6. Bintik Buta : Daerah syaraf optic meninggalkan bagian dalam bola mata
  7. Vitreous Humor : Menyokong lensa dan menjaga bentuk bola mata
  8. Aquous Humor : Menjaga bentuk kantong bola mata.
  1. Bola mata dibagi menjadi 3 lapisan, dari luar ke dalam yaitu :
    1. Tunica Vibrosa
    2. Tunica Vasculosa
    3. Tunica Nervosa.

1)      Tunica Vibrosa
Tunica vibrosa terdiri dari sklera,merupakan lapisan luar yang sangat kuat., berwarna putih. Pada lapisan ini terdapatkornea, yaitu lapisan yang berwarna bening, berfungsi untuk menerima cahaya masuk kemudian memfokuskannya. Untuk melindungi kornea, maka disekresikan air mata sehingga keadaannya selalu basah dan dapat membersihkan dari debu.
Pada batas cornea dan sclera terdapat canalis schlemm yaitu suatu sinus venosus yang menyerap kembali cairan aquaus humor bola mata.

2)       Tunica Vasculosa

Tunica vasculosa merupakan bagian tengah bola mata, urutan dari depan ke belakang terdiri dari iris, corpus ciliaris dan koroid.
Koroid : lapisan tengah yang kaya akan pembuluh darah, lapisan ini juga kaya akan pigmen warna. Daerah ini disebut Iris.Bagian depan dari lapisan iris ini disebut Pupil yang terletak di belakang kornea tengah. Pengaruh kerja ototnya yaitu melebar dan menyempit. Pupil berfungsi mengatur jumlah cahaya yang masuk.Di sebelah dalam pupil terdapat lensa yang berbentuk cakram otot yang disebut Musculus Siliaris. Fungsinya adalah untuk memfokuskan penglihatan. Pada bagian depan dan belakang lensa ini terdapat rongga yang berisi caira bening yang masing-masing disebut Aqueous Humor dan Vitreous Humor. Adanya cairan ini dapat memperkokoh kedudukan bola mata.

3)      Tunica Nervosa
Tunica nervosa (RETINA) : reseptor pada mata yang terletak pada bagian belakang koroid. Lapisan ini lunak & tipis. Retina tersusun dari sekitar 103 juta sel-sel yang berfungsi untuk menerima cahaya. 100 juta sel merupakan sel-sel batang yang berbentuk seperti tongkat pendek dan 3 juta lainnya adalah sel konus(kerucut). Sel-sel ini berfungsi untuk penglihatan hitam dan putih, dan sangat peka pada sedikit cahaya. Sel-sel tersebut adalah :

  1. SEL BATANG tidak dapat membedakan warna, sensitif terhadap cahaya, berfungsi pada saat melihat ditempat gelap, mengandung suatu pigmen yang fotosensitif disebut rhodopsin.
  2. SEL KERUCUT atau cone cell mengandung jenis pigmen yang berbeda, yaituiodopsin yang terdiri dari retinen.Sel kerucut diperlukan untuk penglihatan ketika cahaya terang.
  1. Alat-alat Tambahan Mata
    1. 1.      Alis : fungsinya untuk melindungi mata dari cahaya dan keringat juga untuk kecantikan.
    2. 2.      Kelopak mata : Kelopak mata atas lebih banyak bergerak dari kelopak yang bawah dan mengandung musculus levator pepebrae untuk menarik kelopak mata ke atas (membuka mata). Untuk menutup mata dilakukan oleh otot otot yang lain yang melingkari kelopak mata atas dan bawah yaitu musculus orbicularis oculi.
    3. 3.      Bulu mata : ialah barisan bulu-bulu terletak di sebelah anterior dari kelenjar Meibow.
    4. 4.      Apparatus lacrimalis : terdiri dari kelenjar lacrimal, ductus lacrimalis, canalis lacrimalis, dan ductus nassolacrimalis.

FISIOLOGI SISTEM PENGLIHATAN

  1. Proses Penglihatan
    Cahaya è suatu spektrum gelombang elektromagnetik. Panjang gelombang cahayaè400-700nm, dapat merangsang sel batang (rod cell) dan kerucut (cone cell) sehingga dapat terlihat oleh kita. Gelombang cahaya terlihat sebagai suatu spectrum. Apabila ada rangsang cahaya masuk ke mata maka rangsang tersebut akan diteruskan mulai dari kornea, aqueous humor, pupil, lensa, vitreous humor danterakhir retina. Kemudian diteruskan ke bagian saraf penglihat yang berlanjut dengan lobus osipital sebagai pusat penglihatan pada otak besar. Bagian lobus osipital kanan akan menerima rangsang dari mata kiri dan sebaliknya lobus osipital kiri akan menerima rangsang mata kanan. Di dalam lobus osipital ini rangsang akan diolah kemudian diinterpretasikan.Pembiasan cahaya dari suatu benda akan membentuk bayangan benda jika cahaya tersebut jatuh di bagian bintik kuning pada retina, karena cahaya yang jatuh pada bagian ini akan mengenai sel-sel batang dan kerucut yang meneruskannya ke saraf optik dan saraf optik meneruskannya ke otak sehingga terjadi kesan melihat. Sebaliknya, bayangan suatu benda akan tidak nampak, jika pembiasan cahaya dari suatu benda tersebut jatuh di bagian bintik butapada retina.
  2. Jaras

Cahaya yang sampai di retina mengakibatkan hiperpolarisasi dari reseptor pada retina. Hiperpolarisasi mengakibatkan timbulnya potensial aksi pada sel-sel ganglion, yang aksonnya membentuk nervus optiks. Kedua nervus optikus akan bertemu pada kiasma optikum, di mana serat nervus optikus dari separuh bagian nasal retina menyilang ke sisi yang berlawanan, kemudian akan menyatu dengan serat nervus optikus dari sisi temporal yang berlawanan, membentuk suatu traktus optikus. Serat dari masing-masing traktus optikus bersinaps pada korpus genikulatum lateralis dari thalamus. Kemudian dilanjutkan sebagai radiasi optikum ke korteks visual primer pada fisura calcarina pada lobus oksipital medial. Serat-serat tersebut kemudian diproyeksikan ke korteks visual sekunder.Selain ke korteks visual, serat-serat visual tersebut juga ditujukan ke beberapa area seperti: (1) nukleus suprakiasmatik dari hipotalamusà mengontrol irama sirkadian dan perubahan fisiologis lain yang berkaitan dengan siang dan malam, (2) ke nukleus pretektal pada otak tengah, menimbulkan gerakan refleks pada mata untuk fokus terhadap suatu obyek tertentu dan mengaktivasi refleks cahaya pupil, dan (3) kolikulus superior, untuk mengontrol gerakan cepat dari kedua mata.

  1. Akomodasi adalah kemampuan menyesuaikankekuatan lensa sehinggabaik sumber cahaya dekatmaupun jauh dapat difokuskan di retina. Kontraksi otot siliaris, ligamentum suspensorium melemas & tegangan pada lensa berkurang (lensa membulatdan menguat)

 

 

 

 

PATOFISIOLOGI SISTEM PENGLIHATAN

 

 

 

 

 

 

  1. 2.      Pengkajian, Riwayat Kesehatan, Tanda dan Gejala gangguan Sistem Penglihatan

ANAMNESA (Pengkajian)

  1. Perlu dilakukan pernyataan pada pasien yang meliputi :
  • Keluhan Utama
  • Riwayat penyakit sekarang
  • Riwayat penyakit dahulu yang berhubungan dengan penyakit sekarang
  • Riwayat pemakaian obat-obatan
  • Riwayat penyakit keluarga
  1. Secara garis besar keluhan mata terbagi menjadi 3 kategori, yaitu :
  2. Kelainan Penglihatan
    1. Penurunan tajam penglihatan
    2. Aberasi penglihatan

a)      bayangan hallo, pada glukoma gejala prodromal

b)      kilatan cahaya, gangguan badan kaca dan glukoma

c)      flater, gangguan badan kaca

d)     Diplopia = double, (gangguan otot gerak mata atau perbedaan refraksi kedua mata yang terlalu besar), baik monokuler atau binokuler

  1. Kelainan Penampilan Mata

Mata merah, perubahan lokal dari mata seperti ptosis, bola mata menonjol, pertumbuhan tidak normal.

  1. Kelainan Sensasi Mata

1. Sakit

2. Mata Lelah

3. Iritasi Mata

  • Pemeriksaan Fisik Mata

1. Alis Mata

  • Normal Simetris
  • Kondisi bulu mata (rontok atau sengaja di cabut)
  • Suruh klien menaikkan dan menurunkan alis ( mengetahui Otot & saraf Fasialis)

2.  Kesimetrisan

  • Warna seperti kulit sekitar, halus
  • Posisi mata secara normal paralel satu sama lain.
  • Bulu mata masuk Enteropion, keluar Eksteropion
  • Normal bisa menutup bola mata
  • Catat jika ada lesi (ukuran, bentuk, warna, cairan yg keluar)
  • Perhatikan bulu mata, normal menyebar rata dan melengkung keluar.
  • Perhatikan pola kedipan bilateral (n : 20x/mnt)

3. Kornea

  • Normal berkilau, transparan & halus
  • Bila di uji sensitifitas dg kapas akan mengedip

4. Iris & Pupil

  • Pola iris harus jelas dengan pantulan warna yang sama (sebutkan warna iris)
  • Pupil normal untuk orang Indonesia berwarna hitam, bundar, teratur sebanding dlm ukuran ( diameter 3 s/d 7 mm)
  • Bandingkan kanan dan kiri, normal sama besar (isokor), mengecil (miosis, ex; o/k obat; morfin), amat kecil (pin point), melebar ( medriasis)
  • Uji reflek pupil thd cahaya langsung serentak; normal bila diberi sinar akan mengecil

5. Lensa

  • Normal jernih dan transparan, pada orang tua kadang ada cincin putih seputar iris (Arkus senilis)
  • Palpasi Mata
  • Sebagian dilakukan bersamaan dengan Inspeksi
  • Dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui adanya nyeri tekan, besar benjolan dalam, konsistensi, peningkatan TIO
  • Hanya dilakukan pada palpebra
  1. Gerakan 2 mata (ekstraokuler)
  • Normal dapat mengikuti 8 arah mata angin
  • Pemeriksaan dengan Alat

Snellen Card (langsung Praktek dan perhatikan jarak periksa dan tahapan pemeriksaan serta cara penulisan visus)

  1. Pemeriksaan Tajam Penglihatan (VISUS)

A.1. Media refraksi adalah media dalam mata yang mempengerahui atau merubah arah sinar yangmasuk ke dalam mata, yaitu kornea dan lensa.Jarak pemeriksaan antara pasien dengan kartu Snellen pada refraksi adalah refraksi : 6 M, 5 M, dan 3 M (memakai kaca pantul ).

A.2. Alat2 yang dibutuhkan untuk refraksi adalah :

Kartu Snellen (bisa berupa Echart, Alphabet, dan gambar binatang). Ada 3 jenis :

  • Kertas
  • Elektrik
  • Proyektor
  • Lensa coba (Trial Lens Set)
  • Gagang coba Trial (Frame)

A.3. Untuk pemeriksaan visus bila penderita tidak bisa membaca kartu Snellen maka dilakukan dengan :

  • hitung jari
  • goyangan tangan
  • Cahaya gelap / terang
  1. B.1. Pemeriksaan Segmen Anterior
  • Palpebra (kelopak mata)
  • Konjungtiva (selaput lendir mata)
  • Kornea (selaput bening mata)
  • Bilik mata depan
  • Iris dan pupil
  • lensa mata.

B.2. Pemeriksaan segmen posterior

Menggunakan Oftalmoskop (pemeriksa menggunakan mata kanan, sedangkan yang diperiksa juga mata kanan)

B.3. Pemeriksaan tambahan mata adalah :

  1. Tekanan bola mata (tonometri)
  2. Pemeriksaan lensa mata dalam keadaan pupil lebar
  3. Pemeriksaan fundius refleks.
  4. Pemeriksaan “Slit Lamp”
  5. Pergerakkan Bola mata
  6. Luas lapang pandang
  7. Pemeriksaan Penonjolan Bola Mata
  8. Pemulasan Fluorescen
  9. Oftalmoskop Tak Langsung (Indirect)
  10. Kisi – Kisi Amsler
  11. Tes Penglihatan warna
  12. Pemeriksaan Kelengkungan Kornea
  13. Goniskopi
  14. Foto Fundus dan Fluorescen Fundus Angiopgrafi (FFA).

B.4. Pemeriksaan khusus lainnya :

  • Elektroretinogram (ERG)
  • Tes Schirmer  kekeringan bola mata
  • Ultrasonografi (USG)  ablasio retina, gangguan badan kaca, bengkak bola mata.
  • Oftalmodinamometri
  • CT Scan dan MRI
  1. Cara Penilaiaan Pada Pemeriksaan Mata

C.1. Penilaian tajam penglihatan

Jika ditulis Visus 6/6, artinya angka 6 diatasà kemampuan jarak baca penderita, angka 6 di bawah à kemampuan jarak baca orang normal. Visus 6/60 artinya penderita hanya dapat menghitung jari pada jarak 6 meter, sedangkan pada orang normal bisa menghitung dalam jarak 60 meter. Jika LP + berarti bisa membedakan gelap terang.

C.2.  Penilaian Pemeriksaan segmen Anterior

  1. KonjungtivaàNormalàtidak berwarna, transparan.
  2. KorneaàNormalàbening.
  3. Bilik mata depan (BMD)àNormalàmata cukup dalam dan jernih.
  4. Iris dan pupilàNormalàpupil mata kiri dan kanan sama lebarnyaàletaksimetris di tengah.
  5. Lensa mataàNormalnya jernih. Kekeruhan è katarak.

C.3. Penilaian segmen posterior mata (Memakai alat yang disebut Oftalmoskop langsung (direct) atau tak langsung (indirect)).

  • LAPANG PANDANG

Pemeriksaan lapang pandang dipergunakan untuk tiga alasan:

• Mendeteksi kelainan tajam penglihatan

• Mencari lokasi kelainan disepanjang jaras saraf penglihatan

• Melihat besar kelainan mata dan perubahannya dari waktu ke waktu

Pemeriksaan ini dipergunakan untuk mengeliminir defferential diagnosis dan dipergunakan untuk melihat progresifitas penyakit, biasanya menyertai pemeriksaan lain misalnya: pemeriksaan ketajaman penglihatan dan penglihatan warna.

Pemeriksaan lapang pandang dapat dilakukan dengan berbagai cara, dari yang sangat sederhana bahkan tanpa alat, sampai dengan pemakaian alat canggih. Pemeriksaan ini selalu dilakukan pada satu mata baru kemudian dilakukan pada mata yang lain.

Pemeriksaan lapang pandang bisa dilakukan dengan cara yaitu dengan uji konfrontasi dan kisi Amsler, atau dengan cara yang lebih canggih (dengan perimeter Goldmann).

Dibawah ini akan dijelaskan secara singkat teknik pemeriksaan lapang pandang:

• Melihat wajah pemeriksa

Dengan salah satu mata, pasien diminta mengarahkan pandangannya kehidung pemeriksa kemudian diminta menerangkan mengenai perasaan penglihatannya misalnya:

1. pasien mengatakan hidung tampak tertutup kabut bulat sedangkan disekitarnya jelas. Ini menunjukkan skotoma sentral yang bersifat positif. Keadaan ini sering terjadi pada retinopati serosa sentralis

2. Pasien mengatakan ujung hidung hilang seperti terhapus sedangkan disekitarnya tampak jelas. Ini menunjukkan skotoma sentral yang bersifat negatif. Keadaan ini sering terjadi pada neutritis retrobulbaris

3. Pasien mengatakan bagian bawah hidung tampak kabur sedangkan bagian atas hidung tampak lebih jelas. Ini menunjukkan adanya hemianopia altitudinal inferior. Keadaan ini sering terjadi pada neuropati optik iskhemik anterior akuta.

• Melihat tutup botol Midriatikum (merah)

Dengan salah satu mata yang diperiksa pasien disuruh memfiksasi tutup botol yang tepat berada didepan mata.

• Melihat tutup botol Midriatikum (merah?) di Nasal dan Temporal

Pada mata yang diperiksa dokter memperlihatkan dua tutup botol sekaligus satu nasal satu temporal. Pasien diminta meluruskan pandangannya tepat diantara dua botol mengarah hidung pemeriksa

• Uji seperti nomor 3 dengan jari tangan pemeriksa

Pemeriksa menggerak-gerakkan jari pada setiap kuadran dan pasien diminta mendeteksi atau menghitung jari.

• Menetapkan batas tepi lapang pandang

Pada buku-buku lama, khususnya buku-buku neurologi, penetapan batas tepi lapang pandangan pasien dilakukan dengan membandingkan lapang pandangan pasien dengan lapang pandangan dokter, dengan asumsi bahwa lapang pandangan dokter normal.

KISI AMSLER

Pemeriksaan ini dipakai sebagai pemeriksaan penglihatan sentral 20 derajad, Kisi Amsler berupa gambar kotak-kotak kecil atau kisi pada selembar kertas. Kisi Amsler dipegang dengan jarak 14 inchi, umumnya pasien dikoreksi penglihatan dekatnya terlebih dahulu, mata diperiksa satu persatu.

PERIMETER GOLDMANN

Perimeter Goldmann berupa alat berbentuk mangkok setengah bola, dioperasikan secara manual, menggunakan target uji yang diproyeksikan, serta target uji dijalankan dari luar lapang pandang kedaerah lapang pandangan atau daerah skotoma ke tepi skotoma. Perimeter ini dibuat oleh dokter Goldmann, sehingga nama lengkapnya perimeter ini adalah perimeter mangkok, manual, proyeksi, kinetik, Goldmann.

  • Pemeriksaan Tajam Penglihatan

Tajam penglihatan ialah kemampuan dari mata untuk melihat detail halus dengan menggunakan penglihatan sentral. Pemeriksaan tajam penglihatan ini dilakukan dengan membaca huruf /angka (atau melihat gambar-biasanya pada anak pra sekolah atau orang tua yang buta huruf) dimana huruf/angka/gambar yang dilihat semakin lama akan semakin kecil.

  • Tonometri

TONOMETRI adalah Sebuah tes untuk mengukur tekanan di dalam mata Anda, yang disebut tekanan intraokuler (TIO). Tes ini digunakan untuk memeriksa glaukoma , sebuah penyakit mata yang dapat menyebabkan kebutaan dengan merusak saraf di belakang mata ( saraf optik ). Tonometrimengukur TIO dengan merekam ketahanankornea.

Macam-macam Metode Tonometri :

  1. 1.         Applanation (Goldmann) tonometri

Jenis tonometri menggunakan probe kecil, kemudian dengan lembut meratakan bagian dari kornea Anda untuk mengukur tekanan bola mata dan mikroskop disebut celah lampu untuk melihat mata Anda.Tekanan di mata Anda diukur oleh berapa banyak daya yang dibutuhkan untuk meratakan kornea Anda. Jenis tonometri ini sangat akurat dan sering digunakan untuk mengukur TIO setelah tes skrining sederhana (seperti udara-tengah tonometri) menemukan sebuah TIO meningkat.

  1. 2.         Elektronik lekukan tonometri.

Tonometri elektronik lebih sering digunakan untuk memeriksa peningkatanTIO Meskipun sangat akurat, hasil tonometri elektronik bisa berbeda dari tonometri applanation.Dokter Anda dengan lembut menempatkan ujung bulat dari alat yang terlihat seperti pena langsung pada kornea Anda.Pembacaan TIO menunjukkan pada panel komputer kecil

  1. 3.         Noncontact tonometri (pneumotonometry)

Noncontacttonometri tidak menyentuh mata Anda tetapi menggunakan hembusan udara untuk meratakan kornea Anda.Jenis tonometri bukan cara terbaik untuk mengukur tekanan intraokular.Tapi sering digunakan sebagai cara sederhana untuk memeriksa TIO tinggi dan merupakan cara termudah untuk tes anak.Hal ini juga dapat digunakan untuk orang yang telah dibantu laser in-situ (keratomileusis LASIK ) operasi.Noncontact tonometri tidak menggunakan obat tetes mata mati rasa.

  1. 4.         Indentasi (Schiotz) tonometri.

Jenis tonometri ini menggunakan plunger untuk menekan perlahan kornea Anda.Tekanan di mata Anda diukur oleh berapa banyak beratyang dibutuhkan untuk meratakan kornea Anda.Tes ini tidak seakurat tonometri applanation dan tidak banyak digunakan oleh dokter mata.

Tonometri dapat dilakukan untuk :

  • Pengobatan glaukoma.
  • Sebagai bagian dari pemeriksaan mata secara teratur untuk memeriksa tekanan intraokular meningkat (TIO), yang meningkatkan risiko glaukoma.

Cara Mempersiapkan

  • Jika memakai lensa kontak, lepaskan.
  • Jangan memasukkan kontak Anda kembali selama 2 jam setelah tes.
  • Bawalah kacamata Anda untuk memakai setelah ujiantes sampai Anda dapat memakai lensa kontak Anda.
  • Melonggarkan atau menghapus setiap pakaian ketat di tubuh Anda.
  • Tekanan pada pembuluh darah di tubuh Anda dapat meningkatkan tekanan di dalam mata Anda.
  • Tetap santai.

Hasil dari tonometri akan akurat jika Anda:

  • Tidak  minum lebih dari 2 cangkir (500 ml) cairan 4 jam sebelum tes.
  • Tidak  minum alkohol selama 12 jam sebelum tes.
  • Tidak  merokok selama 24 jam sebelum tes.

Tonometri hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk melakukannya.

  • Kelainan Refraksi

 

Adalah keadaan dimana mata tidak mampu membiaskan atau memfokuskan cahaya ke retina sehingga bayangan benda yang dilihat menjadi kabur. Keadaan seperti ini disebabkan oleh kelengkungan kornea atau daya bias kornea yang abnormal, daya bias lensa dan badan kaca (korpus vitreus) yang abnormal atau sumbu bola mata yang abnormal (axial).

Ametropia adalah suatu keadaan mata dengan kelainan refraksi sehingga pada mata yang dalam keadaan istirahat memberikan fokus yang tidak terletak pada retina. Ametropia dapat ditemukan dalam bentuk kelainan miopia (rabun jauh), hipermetropia (rabun dekat), dan astigmat.

Ada 3 jenis kelainan refraksi yaitu:

a. Rabun jauh (myopia)

b. Rabun dekat (hipermetropia)

c. Sulit membaca dekat (presbiopia) pada orang tua

d. Distorsi penglihatan (astigmatism)

  • Kesan Terhadap Warna

Penglihatan warna normal membutuhkan fungsi makula dan N. Optikus yang normal. Tekhnik yang paling umum dipakai adalah memakai buku “ISHIHARA”.
Misalnya pada Buta warna terjadi akibat tidak ada atau tidak berfungsinya sel yang sensitif dengan warna di lapisan retina mata. Seseorang yang mendeerita buta warna mendapat kesulitan dalam membedakan warna merah, hijau, biru atau campuran dari berbagai warna.

Mata memiliki tiga jenis sel kerucut yang sensitif terhadap cahaya dan terletak di dalam lapisan retina. Setiap jenis sel ada yang sensitif terhadap warna merah, hijau atau biru. Kita dapat membedakan warna bila kita mempunyai sejumlah tertentu sel. Pada orang-orang yang mempunyai gangguan buta warna berat, hanya dapat membedakan beberapa warna, sedangkan orang normal dapat membedakan ribuan warna. Yang amat jarang dijumpai adalah orang yang hanya dapat melihat warna hitam, putih dan abu-abu.

Pemeriksaan yang dilakukan untuk mendiagnosa buta warna adalah dengan uji Pseudoisochromatic.

  1. 3.    PROSEDUR DIAGNOSTIK
  • Flurescen Angiografi

Adalah tes yang memungkinkan pembuluh darah di belakang mata untuk difoto sebagai pewarna neon disuntikkan ke dalam aliran darah melalui tangan atau lengan. Hal ini terutama berguna dalam pengelolaan retinopati diabetes dan degenerasi makula. Tes ini dilakukan untuk membantu dokter mengkonfirmasi diagnosis, untuk memberikan panduan untuk pengobatan, dan untuk menjaga catatan permanen dari pembuluh di bagian belakang mata. Natrium fluorescein adalah senyawa kimia yang sangat neon yang menyerap cahaya biru dengan fluoresensi. Meskipun sering disebut sebagai fluorescein, pewarna yang digunakan dalam angiografi fluorescein adalah natrium, garam natrium dari fluorescein. Angiografi berguna dalam mengidentifikasi kehadiran dan lokasi neovaskularisasi subretinal (pembuluh darah baru tumbuh di bawah retina yang akan bocor dan berdarah).

Prosedur

Mata pasien akan dilebarkan dan diberi tetes mata dan pewarna kuning disuntikkan ke pembuluh darah di lengan Anda. Selama injeksi, bisa ada perasaan hangat atau flush panas dapat dialami. Ini hanya berlangsung detik dan kemudian menghilang. Setelah injeksi, foto yang diambil dengan cepat selama sekitar 60 detik sebagai pewarna memasuki pembuluh di bagian belakang mata Anda. Lampu menyala pada Anda mungkin terlihat cerah namun TIDAK akan merusak mata Anda. Adalah umum bagi kulit menjadi kuning pucat dan urin kuning neon berwarna setelah prosedur dan ini mungkin memerlukan dua hari untuk luntur.

Efek samping terjadi dalam 5 sampai 10 persen dari pasien dan dapat berkisar dari ringan sampai parah. Mual dan muntah kadang-kadang adalah reaksi yang paling umum dan tidak memerlukan pengobatan. Reaksi-reaksi ringan tampaknya terkait dengan volume zat warna dan laju injeksi, tapi belum ada penelitian yang belum dilakukan untuk mendukung kemungkinan itu. Reaksi yang lebih parah jarang terjadi, termasuk gatal-gatal, edema laring (pembengkakan laring), bronkospasme (kesulitan bernapas), syncope (pingsan), anafilaksis, infark miokard.

  • Flurescen Test

Adalah tes yang menggunakan pewarna oranye (fluorescein) dan cahaya biru untuk mendeteksi benda asing di mata. Tes ini juga dapat mendeteksi kerusakan pada kornea, permukaan luar mata.

Prosedur

Sepotong kertas blotting yang mengandung pewarna akan tersentuh ke permukaan mata Anda. Anda akan diminta untuk berkedip. Berkedip menyebarkan pewarna sekitar dan melapisi “film air mata” menutupi permukaan kornea. (Film air mata mengandung air, minyak, dan lendir untuk melindungi dan melumasi mata.)
Lampu biru à diarahkan ke mata Anda. Setiap masalah pada permukaan kornea akan diwarnai dengan pewarna dan tampak hijau di bawah cahaya biru.

Persiapan
Anda harus melepas lensa kontak Anda sebelum test.
Jika mata sangat kering, kertas blotting mungkin sedikit gatal. Pewarna dapat menyebabkan sensasi menyengat ringan dan singkat.
Fungsi

ü  Tes ini berguna dalam mengidentifikasi goresan dangkal atau masalah lain dengan permukaan kornea. Hal ini juga dapat membantu mengungkapkan benda asing pada permukaan mata. Hal ini dapat digunakan setelah kontak yang diresepkan untuk menentukan apakah ada iritasi pada permukaan kornea. Jika hasil tes adalah normal, pewarna tetap dalam film air mata pada permukaan mata.

ü  Abnormal produksi air mata (mata kering)

ü  Kornea abrasi (goresan pada permukaan kornea)

ü  Asing tubuh, seperti bulu mata atau debu

ü  Infeksi

ü  Cedera atau trauma

ü  Mata kering parah yang berhubungan dengan arthritis (keratoconjunctivitis sicca)

  • Elektroretinografi

Adalah tes mata digunakan untuk mendeteksi fungsi abnormal dari retina (bagian cahaya mendeteksi mata). Secara khusus, dalam tes ini, peka cahaya sel mata, batang dan kerucut, dan sel ganglion di retina diperiksa. Selama pengujian, elektroda ditempatkan pada kornea (di depan mata) untuk mengukur respon listrik untuk menyalakan sel rasa cahaya di retina di belakang mata. Sel-sel ini disebut batang dan kerucut.

Prosedur :

Posisi yang nyaman (berbaring atau duduk). Biasanya mata pasien yang melebar terlebih dahulu dengan diberi tetes mata. Tetes anestesi kemudian ditempatkan di mata, menyebabkan mereka menjadi mati rasa. Kelopak mata ini kemudian disangga terbuka dengan spekulum, dan elektroda yang lembut ditempatkan pada setiap mata dengan perangkat yang sangat mirip dengan lensa kontak. Sebuah elektroda tambahan ditempatkan pada kulit untuk menyediakan dasar untuk sinyal-sinyal listrik yang sangat samar yang dihasilkan oleh retina.  Selama sesi rekaman ERG, pasien menonton stimulus cahaya standar, dan sinyal yang dihasilkan ditafsirkan dalam hal tentu saja amplitudo (tegangan) dan waktu.

Manfaat :

Sebuah ERG bergunamengevaluasi kelainan bawaan (keturunan) yang diperoleh dari retina. Juga berguna dalam menentukan apakah operasi retina atau jenis operasi mata seperti ekstraksi katarak mungkin berguna.

 

  • Anel Test

Dengan melakukan uji anel, dapat diketahui apakah fungsi dari bagian eksresi baik atau tidak. Uji anel negative merupakan kontraindikasi mutlak untuk tindakan operasi intraokuler karena kuman dapat masuk kedalam mata.

Cara melakukan uji anel :

ü  Lebarkan pungtum lakrimal dengan dilator pungtum

ü  Isi spuit dengan larutan garam fisiologis

ü  Gunakan jarum lurus atau bengkok tetapi tidak tajam

ü  Masukkan jarum ke dalam pungtum lakrimal dan suntikkan cairan melalui pungtum lakrimal ke dalam saluran eksresi , ke rongga hidung

ü  Uji anel positif jika terasa asin di tenggorok atau ada cairan yang masuk hidung.

ü  Uji anel negatif jika tidak terasa asin. Hal ini berarti ada kelainan di dalam saluran eksresi. Jika cairan keluar dari pungtum lakrimal superior, berarti ada obstruksi di duktus nasolakrimalis. Jika cairan keluar lagi melalui pungtum lakrimal inferior berarti obstruksi terdapat di ujung nasal kananlikuli lakrimal inferior, maka coba lakukan uji anel pungtum lakrimal superior.

Tinggalkan komentar »

SISTEM ENDOKRIN

  1. ANATOMI, FISIOLOGI, PATOFISIOLOGI SISTEM ENDOKRIN

 

SISTEM ENDOKRIN

Sistem Endokrin adalah sistem kontrol kelenjar tanpa saluran yang menghasilkan hormon yang tersirkulasi di tubuh melalui aliran darah untuk mempengaruhi organ-organ lain. Sistem endokrin umumnya bekerja melalui hormon, Hormon adalah zat yang dilepaskan ke dalam aliran darah dari suatu kelenjar atau organ, yang bertindak sebagai “pembawa pesan” untuk dibawa ke berbagai sel tubuh, kemudian “pesan” itu diterjemahkan menjadi suatu tindakan. Dalam hal struktur kimianya, hormon diklasifikasikan sebagai hormon yang larut dalam air dan yang larut dalam lemak. Hormon yang larut dalam air termasuk polipeptida (misal insulin, glukagon, hormon adrenokortikotropik, gastrin) dan katekolamin (misal dopamin, norepinefrin, epinefrin). Hormon yang larut dalam lemak termasuk steroid (misal estrogen, progesteron, testosteron, glukokortikoid, aldosteron) dan tironin (misal tiroksin).

KLASIFIKASI HORMON

ü   Hormon perkembangan / Growth hormone à hormon yang memegang peranan di dalam perkembangan dan pertumbuhan.

ü   Hormon metabolisme à proses homeostasis glukosa dalam tubuh diatur oleh bermacam-macam hormon, contoh glukokortikoid, glukagon, dan katekolamin.

ü   Hormon tropik à dihasilkan oleh struktur khusus dalam pengaturan fungsi endokrin yakni kelenjar hipofise sebagai hormon perangsang pertumbuhan folikel (FSH) pada ovarium dan proses spermatogenesis (LH).

ü   Hormon pengatur metabolisme air dan mineral à kalsitonin dihasilkan oleh kelenjar tiroid untuk mengatur metabolisme kalsium dan fosfor.

Organ dari sistem endokrin :

  1. Hipotalamus, sebagai bagian dari sistem endokrin mengontrol sintesa dan sekresi hormon-hormon hipofise. Hipotalamus melepaskan sejumlah hormon yang merangsang hipofisa. Hipotalamus terletak di batang otak, tepatnya di dienchepalon, dekat dengan ventrikulus tertius yang berfungsi sebagai pusat tertinggi sistem kelenjar endokrin yang menjalankan fungsinya melalui hormonal dan saraf.

 

 

Hormon-hormon hipotalamus antara lain:

  1. ACTH : Adrenocortico Releasing Hormon
  2. ACIH : Adrenocortico Inhibiting Hormon
  3. TRH : Tyroid Releasing Hormon
  4. TIH : Tyroid Inhibiting Hormon
  5. GnRH : Gonadotropin Releasing Hormon
  6. GnIH : Gonadotropin Inhibiting Hormon
  7. PTRH : Paratyroid Releasing Hormon
  8. PTIH : Paratyroid Inhibiting Hormon
  9. PRH : Prolaktin Releasing Hormon
  10. PIH : Prolaktin Inhibiting Hormon
  11. GRH : Growth Releasing Hormon.
  12. GIH : Growth Inhibiting Hormon
  13. MRH : Melanosit Releasing Hormon
  14. MIH : Melanosit Inhibiting Hormon

 

  1. Hipofisis / Hipofise (Pituitary)

Hipofise terletak di sella tursika, lekukan os spenoidalis basis cranii. Berbentuk oval dengan diameter kira-kira 1 cm dan dibagi atas dua lobus Lobus anterior, merupakan bagian terbesar dari hipofise kira-kira 2/3 bagian dari hipofise. Lobus anterior ini juga disebut adenohipofise. Lobus posterior, merupakan 1/3 bagian hipofise dan terdiri dari jaringan saraf sehingga disebut juga neurohipofise. Hipofise menghasilkan hormon tropik dan hormon nontropik. Hormon tropik mengontrol sintesa dan sekresi hormon kelenjar sasaran sedangkan hormon nontropik akan bekerja langsung pada organ sasaran.

  1. Kelenjar Timus (Thymus)

Thymus terletak di dalam mediastinum di belakang os stemum. Hanya dijumpai pada anak-anak di bawah 18 tahun. Setelah itu kelenjar ini mengecil dan tidak ditemukan lagi. Kelenjar ini berwarna kemerah-merahan dan terdiri atas 2 lobus. Beratnya sekitar 10 gram pada bayi yang baru lahir, namun bertambah seriring masa remaja, yaitu sekitar 30-40 gram, kemudian berkerut lagi setelah dewasa. Selama masih aktif, kelenjar ini menghasilkan sel darah putih yang disebut T-lymphocyte. Sel ini selanjutnya akan menetap di dalam tubuh dan mempunyai memory atau ingatan terhadap benda asing yang pemah masuk tubuh dan sel tubuh yang abnormal (termasuk sel kanker). Jika zat yang sama masuk tubuh maka sel ini akan memperbanyak dan menetralkan efek zat itu terhadap tubuh. Fungsi ini merupakan suatu bagian sistem proteksi tubuh atausistem imun (cell mediated immune system) yang bersifat seluler.

  1. Kelenjar Tiroid (Kelenjar Gondok)

Kelenjar tiroid merupakan kelenjar berwarna merah kecoklatan dan sangat vascular. Terletak di anterior cartilago thyroidea di bawah laring setinggi vertebra cervicalis 5 sampai vertebra thorakalis 1. Kelenjar ini terselubungi lapisan pretracheal dari fascia cervicalis. Beratnya kira-kira 18-25 gr tetapi bervariasi pada tiap individu. Kelenjar tiroid sedikit lebih berat pada wanita terutama saat menstruasi dan hamil. Lobus kelenjar tiroid seperti kerucut. Ujung apikalnya menyimpang ke lateral ke garis oblique pada lamina cartilago thyroidea dan basisnya setinggi cartilago trachea 4-5. Kelenjar ini terdiri atas dua lobus yaitu lobus kiri kanan yang dipisahkan oleh isthmus. Masing-masing lobus kelenjar ini mempunyai ketebalan lebih kurang 2 cm, lebar 2,5 cm dan panjangnya 4 cm. Tiap-tiap lobus mempunyai lobuli yang di masing-masing lobuli terdapat folikel dan parafolikuler. Di dalam folikel ini terdapat rongga yang berisi koloid dimana hormon-hormon disintesa. Kelenjar tiroid mendapat sirkulasi darah dari arteri tiroidea superior dan arteri tiroidea inferior. Arteri tiroidea superior merupakan percabangan arteri karotis eksternal dan arteri tiroidea inferior merupakan percabangan dari arteri subklavia.Lobus kanan kelenjar tiroid mendapat suplai darah yang lebih besar dibandingkan dengan lobus kiri. Dipersarafi oleh saraf adrenergik dan kolinergik. Saraf adrenergik berasal dari ganglia servikalis dan kolinergik berasal dari nervus vagus.

  1. Paratiroid (Kelenjar Anak Gondok)

Kelenjar paratiroid berukuran kecil, kuning kecoklatan oval, biasanya terletak antara garis lobus posterior dari kelenjar tiroid dan kapsulnya. Ukurannya kira2 6x3x2 mm. Beratnya 50 mg. Kelenjar ini berjumlah empat buah, biasanya 2 pada tiap sisi, superior dan inferior. Normalnya paratiroid posterior bergeser hanya pada kutub paratiroid posterior, tapi bisa juga turun bersama timus ke thorax atau pada bifurcation karotis.Kelenjar paratiroid superior letaknya lebih konstan daripada inferior dan biasanya terlihat di tengah garis posterior kelenjar tiroid walaupun bisa lebih tinggi. Bagian inferior sangat bervariasi pada beberapa situasi (tergantung perkembangan embriologisnya) dan bias tanpa selubung fascia tiroid, di bawah arteri tiroid, atau pada kelenjar tiroid dekat kutub inferior. Kelenjar ini terdiri dari dua jenis sel yaitu chief cells dan oxyphill cells. Chief cells merupakan bagian terbesar dari kelenjar paratiroid, mensintesa dan mensekresi hormon paratiroid atau parathormon disingkat PTH.

KELENJAR ENDOKRIN

Pengertian

Kelenjar endokrin adalah kelenjar yang mengirim hasil sekresinya langsung ke dalam darah yang beredar dalam jaringan dan menyekresi zat kimia yang disebut hormon. Hormon adalah zat yang dilepaskan ke dalam aliran darah dari suatu kelenjar atau organ yang mempengaruhi kegiatan di dalam sel.

Fungsi kelenjar endokrin adalah sebagai berikut :

ü   Menghasilkan hormon yang dialirkan kedalam darah yang yang diperlukan oleh jaringan tubuh tertentu.

ü   Mengontrol aktivitas kelenjar tubuh

ü   Merangsang aktivitas kelenjar tubuh

ü   Merangsang pertumbuhan jaringan

ü   Mengatur metabolisme, oksidasi, meningkatkan absorbsi glukosa pada usus halus

ü   Memengaruhi metabolisme lemak, protein, hidrat arang, vitamin, mineral, dan air.

Kelenjar hipofisis ( lobus anterior ) :

ü   hormon pertumbuhan ( somatotropin )

ü   thyroid-stimulatin hormon ( TSH )

ü   adrenokortikotropin ( ACTH )

ü   follicle-stimulating hormon ( FSH )

ü   luteinizing hormon ( LH )

ü   prolaktin

Kelenjar hipofisis ( lobus posterior ):

ü   antidiuretik ( vasopresin )

ü   oksitosin

 

Kelenjar tiroid :

ü   tiroksin

ü   kalsitonin

Kelenjar paratiroid :

ü   parathormon

Kelenjar adrenal :

ü   korteks : mineralokortikoid, glukokortikoid, dan hormon seks

ü   medula : epinefrin, dan norepinefrin

Kelenjar pankreas :

ü   insulin

ü   glukagon

ü   somatostatin

Ovarium :

ü   estrogen

ü   progesteron

Testis :

ü   testoteron

 

  1. Kelenjar Hipofisis

Merupakan sebuah kelenjar sebesar kacang polong, terletak di dalam struktur bertulang (sela tursika) di dasar otak. Hipofisis mengendalikan fungsi dari sebagian besar kelenjar endokrin lainnya, sehingga disebut kelenjar pemimpin, atau master of gland. Kelenjar hipofisis terdiri dari dua lobus, yaitu lobus anterior dan lobus posterior.

 

 

 

 

Fungsi hipofisis anterior ( adenohipofise )

Menghasilkan sjumlah hormon yang bekerja sebagai zat pengendali produksi dari semua organendokrin yang lain. Yaitu :

ü Hormon pertumbuhan (somatotropin ) : mengendalikan pertumbuhan tubuh (tulang, otot, dan organ-organ lain).

ü Hormon TSH : mengendalikan pertumbuhan dan aktivitas sekretorik kelejar tiroid.

ü Hormon ACTH : mengendalikan kelenjar suprarenal dalam menghasilkan kortisol yang berasal dari kortex suprarenal.

ü Hormon FSH : pada ovarium berguna untuk merangsang perkembangan folikel dan sekresi esterogen. Pada testis, homon ini berguna untuk merangasang pertumbhan tubulus seminiferus, dan spermatogenesis.

ü Hormon LH : pada ovarium, untuk ovulasi, pembentukan korpus luteum, menebalkan dinding rahim dan sekresi progesteron. Dan pada testis, untuk sekresi testoteron.

ü Hormon Prolaktin : untuk sekresi mamae dan mempertahankan korpus luteum selama hamil.

Fungsi hipofisis posterior

ü  Anti-diuretik hormon (ADH): mengatur jumlah air yang melalui ginjal, reabsorbsi air, dan mengendalikan tekanan darah pada arteriole

ü  Hormon oksitosin : mengatur kontraksi uterus sewaktu melahirkan bayi dan pengeluaran air susu sewaktu menyusui.

 

  1. Kelenjar Tiroid

Tiroid merupakan kelenjar kecil, dengan diameter sekitar 5 cm dan terletak di leher, tepat dibawah jakun. Dalam keadaan normal, kelenjar tiroid tidak terlihat dan hampir tidak teraba, tetapi bila membesar, dokter dapat merabanya dengan mudah dan suatu benjolan bisa tampak dibawah atau di samping jakun. Kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroid, yang mengendalikan kecepatan metabolisme tubuh. Hormon tiroid mempengaruhi kecepatan metabolisme tubuh melalui 2 cara:

ü  Merangsang hampir setiap jaringan tubuh untuk menghasilkan protein.

ü  Meningkatkan jumlah oksigen yang digunakan oleh sel.

Atas pengaruh hormon yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisis lobus anterior, kelenjar tiroid dapat memproduksi hormon tiroksin. Adapun fungsi dari hormon tiroksin adalah mengatur pertukaran zat metabolisme tubuh dan mengatur pertumbuhan jasmani dan rohani.

Fungsi kelenjar tiroid sendiri adlah sebagai berikut :

ü  Bekerja sebagai perangsang proses oksidasi

ü  Mengatur penggunaan oksidasi

ü  Mengatur pengeluara karbon dioksida

ü  Metabolik dalam hati pengaturan susunan kimia dalam jaringan

ü  Pada anak mempengaruhi fisik dan mental

Kelenjar tiroid menghasilkan hormon-hormon sebagai berikut :

ü  Tri-iodo-tironin(T3) dan Tiroksin (T4), berguna untuk merangsang metabolisme zat, katabolisme protein, dan lemak, meningkatkan produksi panas, merangsang sekresi hormon pertumbuhan, dan mempengaruhi perkembangan sel-sel saraf dan mental pada balita dan janin. Kedua hormon ini biasa disebut dangan satu nama,yaitu hormon tiroid.

ü  Kalsitonin : menurunkan kadar kalsium plasma, dengan meningkatkan jumlah penumpukan kalsium pada tulang.

 

  1. Kelenjar Paratiroid

Secara normal ada empat buah kelenjar paratiroid pada manusia, yang terletak tepat dibelakang kelenjar tiroid, dua tertanam di kutub superior kelenjar tiroid dan dua di kutub inferiornya.

Fungsi kelenjar paratiroid :

ü  Memelihara konsentrasi ion kalsium yang tetap dalam plasma.

ü  Mengontrol ekskresi kalsium dan fosfat melalui ginjal.

ü  Mempercepat absorbsi kalsium di intestin.

ü  Kalsium berkurang, hormon para tiroid menstimulasi reabsorpsi tulang sehingga menambah kalsium dalam darah.

ü  Menstimulasi dan mentransport kalsium dan fosfat melalui mmbran sel.

ü  Kelenjar ini menghasilkan hormon yang sering disebut parathormon, yang berfungsi meningkatkan resorpsi tulang, meningkatkan reorpsi kalsium, dan menurunkan kadar kalsium darah.

 

  1. Kelenjar Adrenal ( Anak Ginjal )

Terdapat 2 buah kelenjar adrenal è terletak diatas ginjal. Kelenjar adrenal terbagi menjadi 2 bagian, yaitu bagian medula adrenal ( bagian tengah kelenjar adrenal ) dan korteks adrenal ( bagian luar kelenjar ).

Korteks adrenal memproduksi 3 kelompok hormon steroid, yaitu glukokortikoid dengan prototipe hidrokortison, mineralokortikoid khususnya aldosteron, dan hormon-hormon seks khususnya androgen.

Glukokortikoid berfungsi untuk mempengeruhi metabolisme glukosa, peningkatan sekresi hidrokortison akan menaikan kadar glukossa darah.

Mineralikortikoid bekerja meningkatkan absorbsi ion natrium dalam prose pertukaran untuk mengekresikan ion kalium atau hidrogen.

Hormon seks adrenal ( androgen ) memberikan efek yang serupa dengan efek hormon seks pria.

Medula adrenal berfungsi sebagai bagian dari saraf otonom. Selain itu juga menghasilkan adrenalin da noradrenalin. Nor adrenalin menikan tekanan darah denga jalan merangsang serabut otot di dalam dinding pembuluh darah untuk berkontraksi, dan adrenalin membantu metabolisme karbohidrat dengan jalan menambah pengeluaran glukosa dari hati.

Fungsi kelenjar adrenal korteks :

ü  Mengatur keseimbangan air, elektrolit dan garam

ü  Mempengaruhi metabolisme lemak, hidrat arang, dan protein

ü  Mempengaruhi aktivitas jaringan limfoid

Fungsi kelenjar adrenal medula :

ü  Vasokontriksi pembuuh darah perifer

ü  Relaksasi bronkus

ü  Kontraksi selaput lendir dan arteriole

 

 

 

 

  1. Kelenjar Pankreas

Kelenjar ini terdapat di belakang lambung didepan vertebra lumbalis I dan II. Sebagai kelenjar eksokrin akan menghasilkan enzim-enzim pencernaan ke dalam lumen duodenum. Sedangkan Sebagai endokrin terdiri dari pulau-pulau Langerhans, menghasilkan hormon. Pulau langerhans berbentuk oval dan tersebar diseluruh pankreas. Fungsi pulau langerhans sebagai unit sekresi dalam pengeluaran homeostatik nutrisi, menghambat sekresi insulin, glikogen dan polipeptida. Pada manusia, mengandung 4 macam sel, yaitu :

sel A (atau α)               : menghasilkan glukagon

sel B (atau β)               : menghasilkan insulin

sel D (atau γ)               : menghasilkan somatostatin

sel F (sgt kecil)            : menghasilkan polipeptida pankreas

hormon insulin berguna untuk menurunkan gula darah, menggunakan dan menyimpan karbohidrat. Glukagon berfungsi untuk menaikan glukosa darah dengan jalan glikolisis. Sedangkan somatostatin berguna menurunkan glukosa darah dengan melepaskan hormon pertumbuhan dan glukagon.

 

  1. Kelenjar Kelamin

Dibagi menjadi 2, yaitu kelamin pria ( testis ) dan kelamin wanita ( ovarium ). Testis terletak di skrotum dan menghasilkan hormon testosteron. Hormon ini berfungsi dalam mengatur perkembangan ciri seks sekunder, dan merangsang pertumbuhan organ kelamin pria.

Sedangkan ovarium terdapat pada samping kiri dan kanan uterus, yang menghasilkan esterogen dan progesteron. Fungsi estrogen adalah pematangan dan fungsi siklus haid yang normal. Sedangkan fungsi hormon progesteron adalah pemliharaan kehamilan.

 

 

 

 

 

 

PATOFISIOLOGI SISTEM ENDOKRIN

 

  1. 2.     Pengkajian, Riwayat Kesehatan, Tanda dan Gejala Gangguan Sistem Endokrin, Pemeriksaan Fisik dan Diagnostik Sistem Endokrin

Pengkajian dan Riwayat Kesehatan

  1. Data Demografi

Usia dan jenis kelamin merupakan data dasar yang penting. Beberapa gangguan endokrin baru jelas dirasakan pada usia tertentu merupakan proses patologis sudah berlangsung sejak lama.

  1. Riwayat Kesehatan Keluarga

Mengkaji kemungkinan adanya anggota keluarga yang mengalami gangguan seperti yang di alami klien atau gangguan tertentu yang berhubungan secara langsumg dengan gangguan hormonal seperti:

ü  Obesitas

ü  Gangguan pertumbuhan dan perkembangan

ü  Kelainan pada kelenjar tiroid

ü  Diabetes melitus

ü  Infertilitas

Dalam mengidentifikasi informasi ini gunakan bahasa yang sederhana dan di mengerti oleh klien atau keluarga.

  1. Riwayat Kesehatan dan Keperawatan Klien

Perawat mengkaji kondisi yang pernah dialami oleh klien di luar gangguan yang dirasakan sekarang, misalnya :

ü  Tanda-tanda seks sekunder yang tidak berkembang, misalnya amenore, bulu rambut tidak tumbuh, buah dada tidak berkembang dan lain-lain.

ü  Berat badan yang tidak sesuai dengan usia, misalnya selalu kurus meskipun banyak makan dan lain-lain.

ü  Gangguan psikologis seperti mudah marah, sensitif, sulit bergaul dan tidak mampu berkonsentrasi, dan lain-lain.

ü  Hospitalisasi

ü  Juga informasi tentang penggunaan obat-obatan di saat sekarang dan masa lalu. Penggunaan obat ini mencakup obat yang di peroleh dari dokter atau petugas kesehatan atau obat yang di peroleh secara bebas. Jenis obat-obatan yang mengandung hormon atau yang dapat merangsang aktivitas hormonal seperti Hidrokortison, Levothyroxine, Kontrasepsi oral, dan obat-obatan anti Hipertensif.

  1. Riwayat Diit

ü  Adanya nausea, muntah dan nyeri abdomen

ü  Penurunan atau penambahan berat badan yang drastis

ü  Selera makan yang menurun atau bahkan berlebihan

ü  Pola makan dan minum sehari-hari

ü  Kebiasaan mengkonsumsi makanan yang dapat mengganggu fungsi endokrin seperti makanan yang bersifat goitrogenik terhadap kelenjar tiroid

  1. Status Sosial Ekonomi

Mendiskusikan bersama-sama bagaiman klien dan keluarganya memperoleh makanan yang sehat dan bergizi, upaya mendapatkan pengobatan bila klien dan keluarganya sakit dan upaya mempertahankan kesehatan klien dan keluarga tetap optimal dapat mengungkapkan keadaan sosial ekonomi klien dan menyimpulkan bersama-sama merupakan upaya untuk mengurangi kesalahan penafsiran

  1. Masalah Kesehatan Sekarang (keluhan utama)
  2. Pengkajian Psikososial

Perawat mengkaji keterampilan koping, dukungan keluarga, teman dan bagaimana keyakinan klien tentang sehat sakit. Sejumlah ganguan endokrin yang serius mempengaruhi persepsi klien terhadap dirinya sendiri oleh karena perubahan- perubahan yang dialami menyangkut perubahan fisik, fungsi seksual dan reproduksi dan lain-lain yang akan mempengaruhi konsep dirinya.

TANDA dan GEJALA GANGGUAN SISTEM ENDOKRIN

  1. Kulit kering, pecah-pecah, bersisik dan menebal
  2. Pembengkakan, tangan, mata dan wajah
  3. Rambut rontok, alopesia, kering dan pertumbuhannya buruk
  4. Tidak tahan dingin
  5. Pertumbuhan kuku buruk, kuku menebal
  6. Volume otot bertambah, glossomegali
  7. Kejang otot, kaku.
  8. Artralgia dan efusi sinovial
  9. Osteoporosis
  10. Pertumbuhan tulang terhambat pada usia muda
  11. Umur tulang tertinggal dibanding usia kronologis
    1. Kadar fosfatase alkali menurun
    2. Letargi dan mental menjadi lambat
    3. Aliran darah otak menurun
    4. Kejang, koma, dementia, psikosis (gangguan memori, perhatian kurang, penurunan reflek tendon)
    5. Tuli perseptif, rasa kecap, penciuman terganggu
    6. Bradikardi, disritmia, hipotensi
    7. Curah jantung menurun, gagal jantung
    8. Kardiomiopati di pembuluh. EKG menunjukkan gelombang T mendatar/inverse
    9. Penyakit jantung iskemic
    10. Hipotensilasi
    11. Efusi pleural
    12. Dispnea
    13. Konstipasi, anoreksia, peningkatan BB, distensi abdomen
    14. Obstruksi usus oleh efusi peritoneal
    15. Aklorhidria, antibody sel parietal gaster, anemia pernisiosa
    16. Aliran darah ginjal berkurang, GFR menurun
    17. Retensi air ( volume plasma berkurang )
    18. Hipokalsemia
    19. Anemia normokrom normositik
    20. Anemia mikrositik / makrositik
    21. Gangguan koagulasi ringan
    22. Pada perempuan terjadi perubahan menstruasi seperti amenore / masa menstruasi yang memanjang, menoragi dan galaktore dengan hiperprolaktemi
    23. Gangguan fertilitas
    24. Gangguan hormone pertumbuhan dan respon ACTH, hipofisis terhadap insulin akibat hipoglikem
    25. Gangguan sintesis kortison, kliren kortison menurun
    26. Insufisiensi kelenjar adrenal autoimun
    27. Psikologis / emosi : apatis, agitasi, depresi, paranoid, menarik diri, perilaku maniak
    28. Manifestasi klinis lain berupa : edema periorbita, wajah seperti bulan (moon face), wajah kasar, suara serak, pembesaran leher, lidah tebal, sensitifitas terhadap opioid, haluaran urin menurun, lemah, ekspresi wajah kosong dan lemah.

(Stevenson, J. C& Chahal, P, 1993: 52-53)

 

PEMERIKSAAN FISIK

Melalui pemeriksaan fisik ad dua aspek utama yang dapat di gambarkan yaitu :

a)    Kondisi kelenjar endokrin

b)   Kondisi jaringan atau organ sebagai dampak dari kondisi endokrin

INSPEKSI. PALPASI, AUSKULTASI

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK SISTEM ENDOKRIN

  1. Foto Tengkorak
  2. Foto Tulang
  3. CT scan Otak
  4. Dilakukan untuk melihat kemungkinan adanya tumor pada hipofise atu hipotalamus melalui komputerisasi.
  5. Pemeriksaan Darah dan Urin
  6. Kadar Growth Hormon
  7. Kadar Tiroid Stimulating Hormon (TSH)
  8. Kadar Adenokartiko Tropik (ACTH)
  9. Up take Radioaktif ( RAI )
  10. T3 dan T4 Serum
  11. Up take T3 Resin
  12. Protein Bound Iodine (PBI)
  13. Laju Metabolisme Basal (BMR)
  14. Percobaan Sulkowitch
  15. Percobaan Ellwort ±Howard
  16. Percobaan Kalsium Intravena
  17. Pemeriksaan Radiologi
  18. Pemeriksaan Elektrokardiogran ( EKG )
  19. Pemeriksaan Elektromiogram (EMG)
  20. PemeriksaanHemokonsentrasi darah
  21. Pemeriksaan Elektrolit Serum (Na, K,Cl)
  22. Percobaan Vanil Mandelic Acid (VMA)
  23. Stimulasi test

 

Inspeksi

Pertama-tama, amatilah penampilan umum klien apakah tampak kelemahan berat, sedang dan ringan dan sekaligus amati bentuk dan proporsi tubuh. Pada pemeriksaan wajah, fokuskan pada abnormalitas struktur, bentuk dan ekspresi wajah seperti bentuk dahi, rahang dan bibir. Pada mata amati adanya edema periorbita dan exopthalmus serta apakah ekspresi wajah datar atau tumpul. Amati lidah klien terhadap kelainan bebtuk dan penebalan, ada tidaknya tremor pada saat diam atau bila digerakkan. Didaerah leher, apakah leher tampak membesar, simetris atau tidak. Amati warna kulit (hiperpigmentasi atau hipopigmentasi) pada leher, apakah merata dan cacat lokasinya dengan jelas. Amati bentuk dan ukuran dada, pergerakan dan simetris tidaknya. Ketidakseimbangan hormonal khususnya hormon seks akan menyebabkan perubahan tanda seks sekunder, oleh sebab itu amati keadaan rambut axila dan dada. Pada buah dada amati bentuk dan ukuran, simetris tidaknya, pigmentasi dan adanya pengeluaran cairan. Striae pada buah dada atau abdomen sering dijumpai pada hiperfungsi adrenokortikal. Bentuk abdomen cembung akibat penumpukan lemak centripetal dijumopai pada hiperfungsi adrenokortikal.Pada pemeriksaan genetalia, amati kondisi skrotum dan penis juga klitoris dan labia terhadap kelainan bentuk.

Palpasi

Lakukan palpasi kelenjar tiroid perlobus dan kaji ukuran, nodul tunggal atau multipel, apakah ada rasa nyeri pada saat di palpasi. Pada saat melakukan pemeriksaan, klien duduk atau berdiri sama saja namun untuk menghindari kelelahan klien sebaiknya posisi duduk. Untuk hasil yang lebih baik, dalam melakukan palpasi pemeriksa berada dibelakang klien dengan posisi kedua ibu jari perawat dibagian belakang leher dan keempat jari-jari lain ada diatas kelenjar tiroid. Palpasi testes di lakukan dengan posisi tidur dan tangan perawat harus dalam keadaan hangat. Perawat memegang lembut began ibu jari dan dua jari lain, bandingkan yang satu dengan yang lainnya terhadap ukuran/besarnya, simetris tidaknya nodul. Normalnya testes teraba lembut, peka terhadap sinaar dan sinyal seperti karret.

Auskultasi dan Pengukuran Darah

Auskultasi pada daerah leher, diatas kelenjar tiroid dapat mengidentifikasi bruit. Bruit adalah bunyi yang dihasilkan oleh karena turbulensi pada pembuluh darah tiroidea. Dalam keadaan normal, bunyi ini tidak terdengar. Dapat diidentifikasi bila terjadipeningkatan sirkulasi darah ke kelenjar tiroid sebagai dampak peningkatan aktivitas kelenjar tiroid. Auskultasi dapat pula dilakukan untuk mengidentifikasi perubahan pada pembuluh darah dan jantung seperti tekanan darah, ritme dan rate jantung yang dapat menggambarkan gangguan keseimbangan cairan, perangsangan katekolamin dan perubahan metabilisme tubuh.

 

  1. 3.     PEMERIKSAAN STIMULASI / SUPRESI, RADIOIMUNOASSAY, PEMERIKSAAN URINE, GLUKOSA, T3, T4, BMR
    1. a.      Pemeriksaan Stimulasi / Supresi

Stimulasi Test

Dimaksudkan untuk mengevaluasi dan mendeteksi hipofungsi adrenal. Dapat dilakukan terhadap kortisol dengan pemberian ACTH. Stimulasi terhadap aldosteron dengan pemberian sodium.

  1. b.      Radioimunoassay

Radioimunoassay (RIA) merupakan suatu teknik analisa yang balk untuk diagnoses fungsi tiroid. Teknik RIA yang telah digunakan secara rutin adalah RIA yang menggunakan metoda pemisahan fasa cair, misalnya pengendapan dengan polietilen glikol. Dewasa ini perhatian telah diarahkan pada teknik RIA fasa padat.

 

Pada penelitian ini dilakukan teknik RIA fasa padat dengan mengikatkan antibodi secara kimia pada dinding tabung plastik sebelah dalam yang sebelumnya telah dilapisi glutaraldehid. Antibodi yang akan ditempelkan terlebih dahulu dimurnikan secara kromatografi afinitas yang menggunakan protein A sepharosa sebagai kolom. Selanjutnya ditentukan kadar antibodi yang akan ditempelkan dengan melakukan titer antibodi secara fasa padat.

 

Dilakukan kontrol untuk setiap parameter parcobaan untuk mendapatkan hasil analisa yang optimal. Disain assay (penentuan) dilakukan terhadap volume larutan baku, waktu dan temperatur inkubasi untuk mengetahui kepekaan dan untuk mendapatkan daerah kerja yang diinginkan.

 

Dari data yang diperoleh ternyata dengan menambahkan 20 ul larutan baku T4/cuplikan, 300 ul T4 bertanda 1251 pada tabung yang telah dilapisi dengan antibodi dan diinkubasi selama 24 jam pada suhu 25 C memberikan hasil yang cukup balk pada daerah kerja 14 – 780 nmol/l. Penentuan besaran karakteristik yang dilakukan adalah : besar ikatan non spesif1k (N5B), besar ikatan maksimum (% Bo/T), konsentrasi pada 50 % B/Bo, harga cuplikan kontrol, koefisien variansi antar penentuan cuplikan kontrol dan uji kestabilan.

 

 

  1. c.       Pemeriksaan Urine (Percobaan Sulkowitch)

 

Dilakukan untuk memeriksa perubahan jumlah kalsium dalam urine, sehingga dapat diketahui aktivitas kelenjar paratiroid. Percobaan dilakukan dengan menggunakan Reagens Sulkowitch. Bila pada percobaan tidak terdapat endapan maka kadar kalsium, plasma diperkirakan antara 5 mg/dl. Endapan sedikit (Fine white cloud) menunjukan kadar kalsium darah normal (6 ml/dl). Bila endapan banyak, kadar kalsium tinggi.

èPersiapan

      Urine 24 jam ditampung.

      Makanan rendah kalsium 2 hari berturut-turut

èPelaksanaan

      Masukkan urine 3 ml kedalam tabung (2 tabung)

      Kedalam tabung pertama dimasukkan reagens sulkowitch 3 ml, tabung kedua hanya sebagai kontrol.

èPembacaan hasil secara kwantitatif :

   Negatif (-) : Tidak terjadi kekeruhan.

   Positif (+) : Terjadi kekeruhan yang halus.

   Positif (++) : Kekeruhan sedang

   Positif (+++) : Kekeruhan banyak timbul dalam waktu kurang dari 20 detik.

   Positif (++++) : Kekeruhan hebat, terjadi seketika.

 

  1. d.      Pemeriksaan Glukosa

Jenis pemeriksaannya adalah gula darah puasa. Bertujuan untuk menilai kadar gula darah setelah puasa selama 8-10 jam.

Nilai normal :

      Dewasa                : 70-110 md/dl

      Bayi                      : 50-80 mg/d

      Anak-anak            : 60-100 mg/dl

 

 

Persiapan

      Klien dipuasakan sebelum pemeriksaan dilakukan.

      Jelaskan tujuan prosedur pemeriksaan.

Pelaksanaan

      Spesimen adalah darah vena lebih kurang 5 s/d 10 cc.

      Gunakan anti koagulasi bila pemeriksan tidak dapat dilakukan segera.

      Bila klien mendapat pengobatan insulin atau oral hipoglikemik untuk sementara tidak diberikan.

      Setelah pengambilan darah, klien diberi makan dan minum serta obat-obatan sesuai program.

Gula darah 2 jam setelah makan. Sering disingkat dengan gula darah 2 jam PP (post prandial). Bertujuan untuk menilai kadar gula darah 2 jam setelah makan. Dapat dilakukan secara bersamaan dengan pemeriksaan gula darah puasa artinya setelah pengambilan gula darah puasa, kemudian klien disuruh makan menghabiskan porsi yang biasa lalu setelah 2 jam kemudian dilakukan pengukuran kadar gula darahnya. Atau bisa juga dilakukan secara terpisah tergantung pada kondisi klien.

  1. e.       T3 dan T4 Serum

Persiapan fisik secara khusus tidak ada. Spesimen yang dibutuhkan adalah darah vena sebanyak 5-10 cc.

  1. Nilai normal pada orang dewasa:

      Jodium bebas : 0.1-0.6 mg/dl

      T3 : 0.2-0.3 mg/dl

      T4 :6-12 mg/dl

  1. Nilai normal pada bayi/anak:

      T3 : 180-240 mg/dl

 

 

 

 

  1. f.        BMR (Basal Metabolic Rate)

Tujuan: pengukuran secara tidak langsung jumlah oksigen yang dibutuhkan di bawah kondisi basal selama beberapa waktu

Persiapan :

      Klien puasa 12 jam

      Hindari kondisi yang menimbulkan kecemasan dan stress

      Klien harus tidur sedikit nya 8 jam

      Tidak mengkonsumsi analgetik & sedative

      Jelaskan pada klien tujuan pemeriksaandan prosedur nya

      Tidak boleh bangun dari tempat tidur sampai pemeriksaan di lakukan

Penatalaksanaan

Pengukuran kalorimetri dengan menggunakan metabolator. Nilai normal :

        Pria 53 kalori perjam

        Wanita 60 kalori perjam

Metode Harris Benedict Untuk Mengukur BMR

Pria                 : BMR = 66 + (13,7 x BB(kg) ) + ( 5 x TB(cm) ) +(6,8 x U(thn) )

Wanita            : BMR = 665 + (9,6 x BB(kg) + (1,8 x TB (cm) ) + (4,7 x U (thn) )

 

  1. 4.    Pemeriksaan Radiologi

Persiapan khusus tidak ada. Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat kemungkinan adanya kalsifikasi tulang, penipisin dan osteoporosis. Pada hipotiroid, dapat dijumpai kalsifikasi bilateral pada dasar tengkorak. Densitas tulang bisa normal atau meningkat. Pada hipertiroid, tulang menipis, terbentuk kista dalam tulang serta tuberculae pada tulang.

Tinggalkan komentar »

Menciptakan Mahasiswa Kreatif

“MAHASISWA harus kreatif, jangan menunggu. Mahasiswa yang harus mencari, jangan hanya meminta,” kata Rektor Universitas Bandar lampung (UBL)  Yusuf Barusman, ketika berbincang dengan tim redaksi Dunia Kampus, Selasa (5-11) siang.

Dia mengungkapkan kesempatan mengenyam pendidikan hingga S-1 di Indonesia sangat kecil. Dari usia produktif 19—24 tahun, hanya 9 dari 100 orang yang bisa mengenyam pendidikan hingga bangku perguruan tinggi. Bahkan indeks pendidikan Indonesia dibandingkan dengan negara lain sangat rendah hanya berkisar 18%.

 

Menurutnya, untuk menjadi mahasiswa sukses, tak cukup dengan fasilitas saja, tetapi juga harus diimbangi dengan minat dan semangat dari dalam individu masing-masing. Jika tidak ada kemauan yang kuat, fasilitas secanggih apa pun tak akan ada artinya.

 

Oleh kerena itu, UBL yang menjadi pionir dalam dunia pendidikan di Lampung terus berusaha menjembatani kebutuhan mahasiswa dengan berbagai fasiltas.

 

Yang terbaru, UBL menyediakan laboratorium fotografi yang berada di bawah Prodi Ilmu Komunikasi untuk dimanfaatkan seluruh mahasiswa menyalurkan bakatnya dalam bidang fotografi.

 

“Saya rasa untuk wilayah Sumbagsel, hanya UBL yang memiliki laboratorium fotografi terbesar dan dikelola secara profesional dengan menempatkan tenaga ahli di bidangnya. Ini menjadi kelebihan kita untuk bisa menghasilkan tenaga ahli. Hal ini sejalan dengan visi ilmu komunikasi, yakni mencetak generasi muda kreatif siap pakai di tengah pesatnya perkembangan dunia serta maraknya peminat prodi ini,’’ kata Rektor.

 

Laboratorium yang diresmikan awal Desember 2011 ini juga dikhususkan agar mahasiswa memiliki keterampilan lebih di bidang fotografi. Selain itu, diharapkan UBL mampu memiliki poin lebih dibandingkan kampus lain yang belum mampu menciptakan lab base learning. Lab based learning adalah pembelajaran berdasarkan kenyataan. UBL mengharapkan mahasiswanya tidak hanya pintar dalam berteori, tetapi dalam prakteknya pun memiliki keterampilan yang sama.

 

Penambahan fasilitas ini tidak terlepas dari kebutuhan pangsa pasar akan tenaga ahli dalam bidang ilmu komunikasi yang semakin tinggi. “Saya memprediksikan kebutuhan akan tenaga-tenaga profesional di bidang komunikasi akan sangat tinggi. Oleh karena itulah, UBL berkepentingan untuk memberikan kontribusi dengan membentuk Prodi Ilmu Komunikasi,” ujarnya.

http://lampungpost.com/dunia-kampus/17918-menciptakan-mahasiswa-kreatif.html

 

Tinggalkan komentar »