probouut

Just another WordPress.com site

SISTEM PENGLIHATAN

pada Maret 27, 2012
  1. 1.      Anatomi, Fisiologi, dan Patofisiologi Sistem Penglihatan

ANATOMI SISTEM PENGLIHATAN

  1. Fungsi Mata

Menerima rangsangan berkas cahaya pada retina dengan perantaraan serabut nervus optikus, menghantarkan rangsangan ini ke pusat penglihatan pada otak untuk ditafsirkan.

  1. Bagian-Bagian Mata :
    1. Bola Mata : Berdiameter ± 2,5 cm dimana 5/6 bagiannya terbenam dalam rongga mata, dan hanya 1/6 bagiannya saja yang tampak pada bagian luar.
    2. Sklera : Melindungi bola mata dari kerusakan mekanis dan menjadi tempat melekatnya bola mata
    3. Otot-otot yang melekat pada mata :

èmuskulus rektus superior : menggerakan mata ke atas.
èmuskulus rektus inferior : mengerakan mata ke bawah.

  1. Kornea : Memungkinkan lewatnya cahaya dan merefraksikan cahaya.
  2. Badan Siliaris : Menyokong lensa, membantu lensa untuk beroakomodasi, berfungsi juga untuk mengsekresikan aqueus humor.
  3. Iris : Mengendalikan cahaya yang masuk ke mata melalui pupil, mengandung pigmen.
  4. Lensa : Memfokuskan pandangan dengan mengubah bentuk lensa
  5. Bintik kuning (Fovea) : Bagian retina yang mengandung sel kerucut
  6. Bintik Buta : Daerah syaraf optic meninggalkan bagian dalam bola mata
  7. Vitreous Humor : Menyokong lensa dan menjaga bentuk bola mata
  8. Aquous Humor : Menjaga bentuk kantong bola mata.
  1. Bola mata dibagi menjadi 3 lapisan, dari luar ke dalam yaitu :
    1. Tunica Vibrosa
    2. Tunica Vasculosa
    3. Tunica Nervosa.

1)      Tunica Vibrosa
Tunica vibrosa terdiri dari sklera,merupakan lapisan luar yang sangat kuat., berwarna putih. Pada lapisan ini terdapatkornea, yaitu lapisan yang berwarna bening, berfungsi untuk menerima cahaya masuk kemudian memfokuskannya. Untuk melindungi kornea, maka disekresikan air mata sehingga keadaannya selalu basah dan dapat membersihkan dari debu.
Pada batas cornea dan sclera terdapat canalis schlemm yaitu suatu sinus venosus yang menyerap kembali cairan aquaus humor bola mata.

2)       Tunica Vasculosa

Tunica vasculosa merupakan bagian tengah bola mata, urutan dari depan ke belakang terdiri dari iris, corpus ciliaris dan koroid.
Koroid : lapisan tengah yang kaya akan pembuluh darah, lapisan ini juga kaya akan pigmen warna. Daerah ini disebut Iris.Bagian depan dari lapisan iris ini disebut Pupil yang terletak di belakang kornea tengah. Pengaruh kerja ototnya yaitu melebar dan menyempit. Pupil berfungsi mengatur jumlah cahaya yang masuk.Di sebelah dalam pupil terdapat lensa yang berbentuk cakram otot yang disebut Musculus Siliaris. Fungsinya adalah untuk memfokuskan penglihatan. Pada bagian depan dan belakang lensa ini terdapat rongga yang berisi caira bening yang masing-masing disebut Aqueous Humor dan Vitreous Humor. Adanya cairan ini dapat memperkokoh kedudukan bola mata.

3)      Tunica Nervosa
Tunica nervosa (RETINA) : reseptor pada mata yang terletak pada bagian belakang koroid. Lapisan ini lunak & tipis. Retina tersusun dari sekitar 103 juta sel-sel yang berfungsi untuk menerima cahaya. 100 juta sel merupakan sel-sel batang yang berbentuk seperti tongkat pendek dan 3 juta lainnya adalah sel konus(kerucut). Sel-sel ini berfungsi untuk penglihatan hitam dan putih, dan sangat peka pada sedikit cahaya. Sel-sel tersebut adalah :

  1. SEL BATANG tidak dapat membedakan warna, sensitif terhadap cahaya, berfungsi pada saat melihat ditempat gelap, mengandung suatu pigmen yang fotosensitif disebut rhodopsin.
  2. SEL KERUCUT atau cone cell mengandung jenis pigmen yang berbeda, yaituiodopsin yang terdiri dari retinen.Sel kerucut diperlukan untuk penglihatan ketika cahaya terang.
  1. Alat-alat Tambahan Mata
    1. 1.      Alis : fungsinya untuk melindungi mata dari cahaya dan keringat juga untuk kecantikan.
    2. 2.      Kelopak mata : Kelopak mata atas lebih banyak bergerak dari kelopak yang bawah dan mengandung musculus levator pepebrae untuk menarik kelopak mata ke atas (membuka mata). Untuk menutup mata dilakukan oleh otot otot yang lain yang melingkari kelopak mata atas dan bawah yaitu musculus orbicularis oculi.
    3. 3.      Bulu mata : ialah barisan bulu-bulu terletak di sebelah anterior dari kelenjar Meibow.
    4. 4.      Apparatus lacrimalis : terdiri dari kelenjar lacrimal, ductus lacrimalis, canalis lacrimalis, dan ductus nassolacrimalis.

FISIOLOGI SISTEM PENGLIHATAN

  1. Proses Penglihatan
    Cahaya è suatu spektrum gelombang elektromagnetik. Panjang gelombang cahayaè400-700nm, dapat merangsang sel batang (rod cell) dan kerucut (cone cell) sehingga dapat terlihat oleh kita. Gelombang cahaya terlihat sebagai suatu spectrum. Apabila ada rangsang cahaya masuk ke mata maka rangsang tersebut akan diteruskan mulai dari kornea, aqueous humor, pupil, lensa, vitreous humor danterakhir retina. Kemudian diteruskan ke bagian saraf penglihat yang berlanjut dengan lobus osipital sebagai pusat penglihatan pada otak besar. Bagian lobus osipital kanan akan menerima rangsang dari mata kiri dan sebaliknya lobus osipital kiri akan menerima rangsang mata kanan. Di dalam lobus osipital ini rangsang akan diolah kemudian diinterpretasikan.Pembiasan cahaya dari suatu benda akan membentuk bayangan benda jika cahaya tersebut jatuh di bagian bintik kuning pada retina, karena cahaya yang jatuh pada bagian ini akan mengenai sel-sel batang dan kerucut yang meneruskannya ke saraf optik dan saraf optik meneruskannya ke otak sehingga terjadi kesan melihat. Sebaliknya, bayangan suatu benda akan tidak nampak, jika pembiasan cahaya dari suatu benda tersebut jatuh di bagian bintik butapada retina.
  2. Jaras

Cahaya yang sampai di retina mengakibatkan hiperpolarisasi dari reseptor pada retina. Hiperpolarisasi mengakibatkan timbulnya potensial aksi pada sel-sel ganglion, yang aksonnya membentuk nervus optiks. Kedua nervus optikus akan bertemu pada kiasma optikum, di mana serat nervus optikus dari separuh bagian nasal retina menyilang ke sisi yang berlawanan, kemudian akan menyatu dengan serat nervus optikus dari sisi temporal yang berlawanan, membentuk suatu traktus optikus. Serat dari masing-masing traktus optikus bersinaps pada korpus genikulatum lateralis dari thalamus. Kemudian dilanjutkan sebagai radiasi optikum ke korteks visual primer pada fisura calcarina pada lobus oksipital medial. Serat-serat tersebut kemudian diproyeksikan ke korteks visual sekunder.Selain ke korteks visual, serat-serat visual tersebut juga ditujukan ke beberapa area seperti: (1) nukleus suprakiasmatik dari hipotalamusà mengontrol irama sirkadian dan perubahan fisiologis lain yang berkaitan dengan siang dan malam, (2) ke nukleus pretektal pada otak tengah, menimbulkan gerakan refleks pada mata untuk fokus terhadap suatu obyek tertentu dan mengaktivasi refleks cahaya pupil, dan (3) kolikulus superior, untuk mengontrol gerakan cepat dari kedua mata.

  1. Akomodasi adalah kemampuan menyesuaikankekuatan lensa sehinggabaik sumber cahaya dekatmaupun jauh dapat difokuskan di retina. Kontraksi otot siliaris, ligamentum suspensorium melemas & tegangan pada lensa berkurang (lensa membulatdan menguat)

 

 

 

 

PATOFISIOLOGI SISTEM PENGLIHATAN

 

 

 

 

 

 

  1. 2.      Pengkajian, Riwayat Kesehatan, Tanda dan Gejala gangguan Sistem Penglihatan

ANAMNESA (Pengkajian)

  1. Perlu dilakukan pernyataan pada pasien yang meliputi :
  • Keluhan Utama
  • Riwayat penyakit sekarang
  • Riwayat penyakit dahulu yang berhubungan dengan penyakit sekarang
  • Riwayat pemakaian obat-obatan
  • Riwayat penyakit keluarga
  1. Secara garis besar keluhan mata terbagi menjadi 3 kategori, yaitu :
  2. Kelainan Penglihatan
    1. Penurunan tajam penglihatan
    2. Aberasi penglihatan

a)      bayangan hallo, pada glukoma gejala prodromal

b)      kilatan cahaya, gangguan badan kaca dan glukoma

c)      flater, gangguan badan kaca

d)     Diplopia = double, (gangguan otot gerak mata atau perbedaan refraksi kedua mata yang terlalu besar), baik monokuler atau binokuler

  1. Kelainan Penampilan Mata

Mata merah, perubahan lokal dari mata seperti ptosis, bola mata menonjol, pertumbuhan tidak normal.

  1. Kelainan Sensasi Mata

1. Sakit

2. Mata Lelah

3. Iritasi Mata

  • Pemeriksaan Fisik Mata

1. Alis Mata

  • Normal Simetris
  • Kondisi bulu mata (rontok atau sengaja di cabut)
  • Suruh klien menaikkan dan menurunkan alis ( mengetahui Otot & saraf Fasialis)

2.  Kesimetrisan

  • Warna seperti kulit sekitar, halus
  • Posisi mata secara normal paralel satu sama lain.
  • Bulu mata masuk Enteropion, keluar Eksteropion
  • Normal bisa menutup bola mata
  • Catat jika ada lesi (ukuran, bentuk, warna, cairan yg keluar)
  • Perhatikan bulu mata, normal menyebar rata dan melengkung keluar.
  • Perhatikan pola kedipan bilateral (n : 20x/mnt)

3. Kornea

  • Normal berkilau, transparan & halus
  • Bila di uji sensitifitas dg kapas akan mengedip

4. Iris & Pupil

  • Pola iris harus jelas dengan pantulan warna yang sama (sebutkan warna iris)
  • Pupil normal untuk orang Indonesia berwarna hitam, bundar, teratur sebanding dlm ukuran ( diameter 3 s/d 7 mm)
  • Bandingkan kanan dan kiri, normal sama besar (isokor), mengecil (miosis, ex; o/k obat; morfin), amat kecil (pin point), melebar ( medriasis)
  • Uji reflek pupil thd cahaya langsung serentak; normal bila diberi sinar akan mengecil

5. Lensa

  • Normal jernih dan transparan, pada orang tua kadang ada cincin putih seputar iris (Arkus senilis)
  • Palpasi Mata
  • Sebagian dilakukan bersamaan dengan Inspeksi
  • Dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui adanya nyeri tekan, besar benjolan dalam, konsistensi, peningkatan TIO
  • Hanya dilakukan pada palpebra
  1. Gerakan 2 mata (ekstraokuler)
  • Normal dapat mengikuti 8 arah mata angin
  • Pemeriksaan dengan Alat

Snellen Card (langsung Praktek dan perhatikan jarak periksa dan tahapan pemeriksaan serta cara penulisan visus)

  1. Pemeriksaan Tajam Penglihatan (VISUS)

A.1. Media refraksi adalah media dalam mata yang mempengerahui atau merubah arah sinar yangmasuk ke dalam mata, yaitu kornea dan lensa.Jarak pemeriksaan antara pasien dengan kartu Snellen pada refraksi adalah refraksi : 6 M, 5 M, dan 3 M (memakai kaca pantul ).

A.2. Alat2 yang dibutuhkan untuk refraksi adalah :

Kartu Snellen (bisa berupa Echart, Alphabet, dan gambar binatang). Ada 3 jenis :

  • Kertas
  • Elektrik
  • Proyektor
  • Lensa coba (Trial Lens Set)
  • Gagang coba Trial (Frame)

A.3. Untuk pemeriksaan visus bila penderita tidak bisa membaca kartu Snellen maka dilakukan dengan :

  • hitung jari
  • goyangan tangan
  • Cahaya gelap / terang
  1. B.1. Pemeriksaan Segmen Anterior
  • Palpebra (kelopak mata)
  • Konjungtiva (selaput lendir mata)
  • Kornea (selaput bening mata)
  • Bilik mata depan
  • Iris dan pupil
  • lensa mata.

B.2. Pemeriksaan segmen posterior

Menggunakan Oftalmoskop (pemeriksa menggunakan mata kanan, sedangkan yang diperiksa juga mata kanan)

B.3. Pemeriksaan tambahan mata adalah :

  1. Tekanan bola mata (tonometri)
  2. Pemeriksaan lensa mata dalam keadaan pupil lebar
  3. Pemeriksaan fundius refleks.
  4. Pemeriksaan “Slit Lamp”
  5. Pergerakkan Bola mata
  6. Luas lapang pandang
  7. Pemeriksaan Penonjolan Bola Mata
  8. Pemulasan Fluorescen
  9. Oftalmoskop Tak Langsung (Indirect)
  10. Kisi – Kisi Amsler
  11. Tes Penglihatan warna
  12. Pemeriksaan Kelengkungan Kornea
  13. Goniskopi
  14. Foto Fundus dan Fluorescen Fundus Angiopgrafi (FFA).

B.4. Pemeriksaan khusus lainnya :

  • Elektroretinogram (ERG)
  • Tes Schirmer  kekeringan bola mata
  • Ultrasonografi (USG)  ablasio retina, gangguan badan kaca, bengkak bola mata.
  • Oftalmodinamometri
  • CT Scan dan MRI
  1. Cara Penilaiaan Pada Pemeriksaan Mata

C.1. Penilaian tajam penglihatan

Jika ditulis Visus 6/6, artinya angka 6 diatasà kemampuan jarak baca penderita, angka 6 di bawah à kemampuan jarak baca orang normal. Visus 6/60 artinya penderita hanya dapat menghitung jari pada jarak 6 meter, sedangkan pada orang normal bisa menghitung dalam jarak 60 meter. Jika LP + berarti bisa membedakan gelap terang.

C.2.  Penilaian Pemeriksaan segmen Anterior

  1. KonjungtivaàNormalàtidak berwarna, transparan.
  2. KorneaàNormalàbening.
  3. Bilik mata depan (BMD)àNormalàmata cukup dalam dan jernih.
  4. Iris dan pupilàNormalàpupil mata kiri dan kanan sama lebarnyaàletaksimetris di tengah.
  5. Lensa mataàNormalnya jernih. Kekeruhan è katarak.

C.3. Penilaian segmen posterior mata (Memakai alat yang disebut Oftalmoskop langsung (direct) atau tak langsung (indirect)).

  • LAPANG PANDANG

Pemeriksaan lapang pandang dipergunakan untuk tiga alasan:

• Mendeteksi kelainan tajam penglihatan

• Mencari lokasi kelainan disepanjang jaras saraf penglihatan

• Melihat besar kelainan mata dan perubahannya dari waktu ke waktu

Pemeriksaan ini dipergunakan untuk mengeliminir defferential diagnosis dan dipergunakan untuk melihat progresifitas penyakit, biasanya menyertai pemeriksaan lain misalnya: pemeriksaan ketajaman penglihatan dan penglihatan warna.

Pemeriksaan lapang pandang dapat dilakukan dengan berbagai cara, dari yang sangat sederhana bahkan tanpa alat, sampai dengan pemakaian alat canggih. Pemeriksaan ini selalu dilakukan pada satu mata baru kemudian dilakukan pada mata yang lain.

Pemeriksaan lapang pandang bisa dilakukan dengan cara yaitu dengan uji konfrontasi dan kisi Amsler, atau dengan cara yang lebih canggih (dengan perimeter Goldmann).

Dibawah ini akan dijelaskan secara singkat teknik pemeriksaan lapang pandang:

• Melihat wajah pemeriksa

Dengan salah satu mata, pasien diminta mengarahkan pandangannya kehidung pemeriksa kemudian diminta menerangkan mengenai perasaan penglihatannya misalnya:

1. pasien mengatakan hidung tampak tertutup kabut bulat sedangkan disekitarnya jelas. Ini menunjukkan skotoma sentral yang bersifat positif. Keadaan ini sering terjadi pada retinopati serosa sentralis

2. Pasien mengatakan ujung hidung hilang seperti terhapus sedangkan disekitarnya tampak jelas. Ini menunjukkan skotoma sentral yang bersifat negatif. Keadaan ini sering terjadi pada neutritis retrobulbaris

3. Pasien mengatakan bagian bawah hidung tampak kabur sedangkan bagian atas hidung tampak lebih jelas. Ini menunjukkan adanya hemianopia altitudinal inferior. Keadaan ini sering terjadi pada neuropati optik iskhemik anterior akuta.

• Melihat tutup botol Midriatikum (merah)

Dengan salah satu mata yang diperiksa pasien disuruh memfiksasi tutup botol yang tepat berada didepan mata.

• Melihat tutup botol Midriatikum (merah?) di Nasal dan Temporal

Pada mata yang diperiksa dokter memperlihatkan dua tutup botol sekaligus satu nasal satu temporal. Pasien diminta meluruskan pandangannya tepat diantara dua botol mengarah hidung pemeriksa

• Uji seperti nomor 3 dengan jari tangan pemeriksa

Pemeriksa menggerak-gerakkan jari pada setiap kuadran dan pasien diminta mendeteksi atau menghitung jari.

• Menetapkan batas tepi lapang pandang

Pada buku-buku lama, khususnya buku-buku neurologi, penetapan batas tepi lapang pandangan pasien dilakukan dengan membandingkan lapang pandangan pasien dengan lapang pandangan dokter, dengan asumsi bahwa lapang pandangan dokter normal.

KISI AMSLER

Pemeriksaan ini dipakai sebagai pemeriksaan penglihatan sentral 20 derajad, Kisi Amsler berupa gambar kotak-kotak kecil atau kisi pada selembar kertas. Kisi Amsler dipegang dengan jarak 14 inchi, umumnya pasien dikoreksi penglihatan dekatnya terlebih dahulu, mata diperiksa satu persatu.

PERIMETER GOLDMANN

Perimeter Goldmann berupa alat berbentuk mangkok setengah bola, dioperasikan secara manual, menggunakan target uji yang diproyeksikan, serta target uji dijalankan dari luar lapang pandang kedaerah lapang pandangan atau daerah skotoma ke tepi skotoma. Perimeter ini dibuat oleh dokter Goldmann, sehingga nama lengkapnya perimeter ini adalah perimeter mangkok, manual, proyeksi, kinetik, Goldmann.

  • Pemeriksaan Tajam Penglihatan

Tajam penglihatan ialah kemampuan dari mata untuk melihat detail halus dengan menggunakan penglihatan sentral. Pemeriksaan tajam penglihatan ini dilakukan dengan membaca huruf /angka (atau melihat gambar-biasanya pada anak pra sekolah atau orang tua yang buta huruf) dimana huruf/angka/gambar yang dilihat semakin lama akan semakin kecil.

  • Tonometri

TONOMETRI adalah Sebuah tes untuk mengukur tekanan di dalam mata Anda, yang disebut tekanan intraokuler (TIO). Tes ini digunakan untuk memeriksa glaukoma , sebuah penyakit mata yang dapat menyebabkan kebutaan dengan merusak saraf di belakang mata ( saraf optik ). Tonometrimengukur TIO dengan merekam ketahanankornea.

Macam-macam Metode Tonometri :

  1. 1.         Applanation (Goldmann) tonometri

Jenis tonometri menggunakan probe kecil, kemudian dengan lembut meratakan bagian dari kornea Anda untuk mengukur tekanan bola mata dan mikroskop disebut celah lampu untuk melihat mata Anda.Tekanan di mata Anda diukur oleh berapa banyak daya yang dibutuhkan untuk meratakan kornea Anda. Jenis tonometri ini sangat akurat dan sering digunakan untuk mengukur TIO setelah tes skrining sederhana (seperti udara-tengah tonometri) menemukan sebuah TIO meningkat.

  1. 2.         Elektronik lekukan tonometri.

Tonometri elektronik lebih sering digunakan untuk memeriksa peningkatanTIO Meskipun sangat akurat, hasil tonometri elektronik bisa berbeda dari tonometri applanation.Dokter Anda dengan lembut menempatkan ujung bulat dari alat yang terlihat seperti pena langsung pada kornea Anda.Pembacaan TIO menunjukkan pada panel komputer kecil

  1. 3.         Noncontact tonometri (pneumotonometry)

Noncontacttonometri tidak menyentuh mata Anda tetapi menggunakan hembusan udara untuk meratakan kornea Anda.Jenis tonometri bukan cara terbaik untuk mengukur tekanan intraokular.Tapi sering digunakan sebagai cara sederhana untuk memeriksa TIO tinggi dan merupakan cara termudah untuk tes anak.Hal ini juga dapat digunakan untuk orang yang telah dibantu laser in-situ (keratomileusis LASIK ) operasi.Noncontact tonometri tidak menggunakan obat tetes mata mati rasa.

  1. 4.         Indentasi (Schiotz) tonometri.

Jenis tonometri ini menggunakan plunger untuk menekan perlahan kornea Anda.Tekanan di mata Anda diukur oleh berapa banyak beratyang dibutuhkan untuk meratakan kornea Anda.Tes ini tidak seakurat tonometri applanation dan tidak banyak digunakan oleh dokter mata.

Tonometri dapat dilakukan untuk :

  • Pengobatan glaukoma.
  • Sebagai bagian dari pemeriksaan mata secara teratur untuk memeriksa tekanan intraokular meningkat (TIO), yang meningkatkan risiko glaukoma.

Cara Mempersiapkan

  • Jika memakai lensa kontak, lepaskan.
  • Jangan memasukkan kontak Anda kembali selama 2 jam setelah tes.
  • Bawalah kacamata Anda untuk memakai setelah ujiantes sampai Anda dapat memakai lensa kontak Anda.
  • Melonggarkan atau menghapus setiap pakaian ketat di tubuh Anda.
  • Tekanan pada pembuluh darah di tubuh Anda dapat meningkatkan tekanan di dalam mata Anda.
  • Tetap santai.

Hasil dari tonometri akan akurat jika Anda:

  • Tidak  minum lebih dari 2 cangkir (500 ml) cairan 4 jam sebelum tes.
  • Tidak  minum alkohol selama 12 jam sebelum tes.
  • Tidak  merokok selama 24 jam sebelum tes.

Tonometri hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk melakukannya.

  • Kelainan Refraksi

 

Adalah keadaan dimana mata tidak mampu membiaskan atau memfokuskan cahaya ke retina sehingga bayangan benda yang dilihat menjadi kabur. Keadaan seperti ini disebabkan oleh kelengkungan kornea atau daya bias kornea yang abnormal, daya bias lensa dan badan kaca (korpus vitreus) yang abnormal atau sumbu bola mata yang abnormal (axial).

Ametropia adalah suatu keadaan mata dengan kelainan refraksi sehingga pada mata yang dalam keadaan istirahat memberikan fokus yang tidak terletak pada retina. Ametropia dapat ditemukan dalam bentuk kelainan miopia (rabun jauh), hipermetropia (rabun dekat), dan astigmat.

Ada 3 jenis kelainan refraksi yaitu:

a. Rabun jauh (myopia)

b. Rabun dekat (hipermetropia)

c. Sulit membaca dekat (presbiopia) pada orang tua

d. Distorsi penglihatan (astigmatism)

  • Kesan Terhadap Warna

Penglihatan warna normal membutuhkan fungsi makula dan N. Optikus yang normal. Tekhnik yang paling umum dipakai adalah memakai buku “ISHIHARA”.
Misalnya pada Buta warna terjadi akibat tidak ada atau tidak berfungsinya sel yang sensitif dengan warna di lapisan retina mata. Seseorang yang mendeerita buta warna mendapat kesulitan dalam membedakan warna merah, hijau, biru atau campuran dari berbagai warna.

Mata memiliki tiga jenis sel kerucut yang sensitif terhadap cahaya dan terletak di dalam lapisan retina. Setiap jenis sel ada yang sensitif terhadap warna merah, hijau atau biru. Kita dapat membedakan warna bila kita mempunyai sejumlah tertentu sel. Pada orang-orang yang mempunyai gangguan buta warna berat, hanya dapat membedakan beberapa warna, sedangkan orang normal dapat membedakan ribuan warna. Yang amat jarang dijumpai adalah orang yang hanya dapat melihat warna hitam, putih dan abu-abu.

Pemeriksaan yang dilakukan untuk mendiagnosa buta warna adalah dengan uji Pseudoisochromatic.

  1. 3.    PROSEDUR DIAGNOSTIK
  • Flurescen Angiografi

Adalah tes yang memungkinkan pembuluh darah di belakang mata untuk difoto sebagai pewarna neon disuntikkan ke dalam aliran darah melalui tangan atau lengan. Hal ini terutama berguna dalam pengelolaan retinopati diabetes dan degenerasi makula. Tes ini dilakukan untuk membantu dokter mengkonfirmasi diagnosis, untuk memberikan panduan untuk pengobatan, dan untuk menjaga catatan permanen dari pembuluh di bagian belakang mata. Natrium fluorescein adalah senyawa kimia yang sangat neon yang menyerap cahaya biru dengan fluoresensi. Meskipun sering disebut sebagai fluorescein, pewarna yang digunakan dalam angiografi fluorescein adalah natrium, garam natrium dari fluorescein. Angiografi berguna dalam mengidentifikasi kehadiran dan lokasi neovaskularisasi subretinal (pembuluh darah baru tumbuh di bawah retina yang akan bocor dan berdarah).

Prosedur

Mata pasien akan dilebarkan dan diberi tetes mata dan pewarna kuning disuntikkan ke pembuluh darah di lengan Anda. Selama injeksi, bisa ada perasaan hangat atau flush panas dapat dialami. Ini hanya berlangsung detik dan kemudian menghilang. Setelah injeksi, foto yang diambil dengan cepat selama sekitar 60 detik sebagai pewarna memasuki pembuluh di bagian belakang mata Anda. Lampu menyala pada Anda mungkin terlihat cerah namun TIDAK akan merusak mata Anda. Adalah umum bagi kulit menjadi kuning pucat dan urin kuning neon berwarna setelah prosedur dan ini mungkin memerlukan dua hari untuk luntur.

Efek samping terjadi dalam 5 sampai 10 persen dari pasien dan dapat berkisar dari ringan sampai parah. Mual dan muntah kadang-kadang adalah reaksi yang paling umum dan tidak memerlukan pengobatan. Reaksi-reaksi ringan tampaknya terkait dengan volume zat warna dan laju injeksi, tapi belum ada penelitian yang belum dilakukan untuk mendukung kemungkinan itu. Reaksi yang lebih parah jarang terjadi, termasuk gatal-gatal, edema laring (pembengkakan laring), bronkospasme (kesulitan bernapas), syncope (pingsan), anafilaksis, infark miokard.

  • Flurescen Test

Adalah tes yang menggunakan pewarna oranye (fluorescein) dan cahaya biru untuk mendeteksi benda asing di mata. Tes ini juga dapat mendeteksi kerusakan pada kornea, permukaan luar mata.

Prosedur

Sepotong kertas blotting yang mengandung pewarna akan tersentuh ke permukaan mata Anda. Anda akan diminta untuk berkedip. Berkedip menyebarkan pewarna sekitar dan melapisi “film air mata” menutupi permukaan kornea. (Film air mata mengandung air, minyak, dan lendir untuk melindungi dan melumasi mata.)
Lampu biru à diarahkan ke mata Anda. Setiap masalah pada permukaan kornea akan diwarnai dengan pewarna dan tampak hijau di bawah cahaya biru.

Persiapan
Anda harus melepas lensa kontak Anda sebelum test.
Jika mata sangat kering, kertas blotting mungkin sedikit gatal. Pewarna dapat menyebabkan sensasi menyengat ringan dan singkat.
Fungsi

ü  Tes ini berguna dalam mengidentifikasi goresan dangkal atau masalah lain dengan permukaan kornea. Hal ini juga dapat membantu mengungkapkan benda asing pada permukaan mata. Hal ini dapat digunakan setelah kontak yang diresepkan untuk menentukan apakah ada iritasi pada permukaan kornea. Jika hasil tes adalah normal, pewarna tetap dalam film air mata pada permukaan mata.

ü  Abnormal produksi air mata (mata kering)

ü  Kornea abrasi (goresan pada permukaan kornea)

ü  Asing tubuh, seperti bulu mata atau debu

ü  Infeksi

ü  Cedera atau trauma

ü  Mata kering parah yang berhubungan dengan arthritis (keratoconjunctivitis sicca)

  • Elektroretinografi

Adalah tes mata digunakan untuk mendeteksi fungsi abnormal dari retina (bagian cahaya mendeteksi mata). Secara khusus, dalam tes ini, peka cahaya sel mata, batang dan kerucut, dan sel ganglion di retina diperiksa. Selama pengujian, elektroda ditempatkan pada kornea (di depan mata) untuk mengukur respon listrik untuk menyalakan sel rasa cahaya di retina di belakang mata. Sel-sel ini disebut batang dan kerucut.

Prosedur :

Posisi yang nyaman (berbaring atau duduk). Biasanya mata pasien yang melebar terlebih dahulu dengan diberi tetes mata. Tetes anestesi kemudian ditempatkan di mata, menyebabkan mereka menjadi mati rasa. Kelopak mata ini kemudian disangga terbuka dengan spekulum, dan elektroda yang lembut ditempatkan pada setiap mata dengan perangkat yang sangat mirip dengan lensa kontak. Sebuah elektroda tambahan ditempatkan pada kulit untuk menyediakan dasar untuk sinyal-sinyal listrik yang sangat samar yang dihasilkan oleh retina.  Selama sesi rekaman ERG, pasien menonton stimulus cahaya standar, dan sinyal yang dihasilkan ditafsirkan dalam hal tentu saja amplitudo (tegangan) dan waktu.

Manfaat :

Sebuah ERG bergunamengevaluasi kelainan bawaan (keturunan) yang diperoleh dari retina. Juga berguna dalam menentukan apakah operasi retina atau jenis operasi mata seperti ekstraksi katarak mungkin berguna.

 

  • Anel Test

Dengan melakukan uji anel, dapat diketahui apakah fungsi dari bagian eksresi baik atau tidak. Uji anel negative merupakan kontraindikasi mutlak untuk tindakan operasi intraokuler karena kuman dapat masuk kedalam mata.

Cara melakukan uji anel :

ü  Lebarkan pungtum lakrimal dengan dilator pungtum

ü  Isi spuit dengan larutan garam fisiologis

ü  Gunakan jarum lurus atau bengkok tetapi tidak tajam

ü  Masukkan jarum ke dalam pungtum lakrimal dan suntikkan cairan melalui pungtum lakrimal ke dalam saluran eksresi , ke rongga hidung

ü  Uji anel positif jika terasa asin di tenggorok atau ada cairan yang masuk hidung.

ü  Uji anel negatif jika tidak terasa asin. Hal ini berarti ada kelainan di dalam saluran eksresi. Jika cairan keluar dari pungtum lakrimal superior, berarti ada obstruksi di duktus nasolakrimalis. Jika cairan keluar lagi melalui pungtum lakrimal inferior berarti obstruksi terdapat di ujung nasal kananlikuli lakrimal inferior, maka coba lakukan uji anel pungtum lakrimal superior.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: