probouut

Just another WordPress.com site

SISTEM PENDENGARAN

pada Maret 27, 2012
  1. 1.        ANATOMI, FISIOLOGI, PATOFISIOLOGI SISTEM PENDENGARAN

Definisi :

Telinga merupakan organ pendengaran sekaligus juga organ keseimbangan.

Anatomi Telinga Luar

Telinga luar, terdiri dari aurikula (atau pinna) dan kanalis auditorius eksternus, dipisahkan dari telinga tengah oleh struktur seperti cakram yang dinamakan membran timpani (gendang telinga). Telinga terletak pada kedua sisi kepala kurang lebih setinggi mata. Aurikulus melekat ke sisi kepala oleh kulit dan tersusun terutama oleh kartilago, kecuali lemak dan jaringan bawah kulit pada lobus telinga. Aurikulus membantu pengumpulan gelombang suara dan perjalanannya sepanjang kanalis auditorius eksternus. Tepat di depan meatus auditorius eksternus adalah sendi temporal mandibular. Kaput mandibula dapat dirasakan dengan meletakkan ujung jari di meatus auditorius eksternus ketika membuka dan menutup mulut. Kanalis auditorius eksternus panjangnya sekitar 2,5 sentimeter. Sepertiga lateral mempunyai kerangka kartilago dan fibrosa padat di mana kulit terlekat. Dua pertiga medial tersusun atas tulang yang dilapisi kulit tipis. Kanalis auditorius eksternus berakhir pada membrana timpani. Kulit dalam kanal mengandung kelenjar khusus, glandula seruminosa, yang mensekresi substansi seperti lilin yang disebut serumen. Mekanisme pembersihan diri telinga mendorong sel kulit tua dan serumen ke bagian luar tetinga. Serumen nampaknya mempunyai sifat antibakteri dan memberikan perlindungan bagi kulit.

 

Anatomi Telinga Tengah

Telinga tengah tersusun atas membran timpani (gendang telinga) di sebelah lateral dan kapsul otik di sebelah medial celah telinga tengah terletak di antara kedua membran timpani terletak pada akhiran kanalis aurius eksternus dan menandai batas lateral telinga, Membran ini sekitar 1 cm dan selaput tipis normalnya berwarna kelabu mutiara dan translulen.Telinga tengah merupakan rongga berisi udara merupakan rumah bagi osikuli (tulang telinga tengah) dihubungkan dengan tuba eustachii ke nasofaring berhubungan dengan beberapa sel berisi udara di bagian mastoid tulang temporal. Telinga tengah mengandung tulang terkecil (osikuli) yaitu malleus, inkus stapes. Osikuli dipertahankan pada tempatnya oleh sendian, otot, dan ligamen, yang membantu hantaran suara. Ada dua jendela kecil (jendela oval dan dinding medial telinga tengah), yang memisahkan telinga tengah dengan telinga dalam. Bagian dataran kaki menjejak pada jendela oval, di mana suara dihantar telinga tengah. Jendela bulat memberikan jalan ke getaran suara. Jendela bulat ditutupi oleh membran sangat tipis, dan dataran kaki stapes ditahan oleh yang agak tipis, atau struktur berbentuk cincin. Anulus jendela bulat maupun jendela oval mudah mengalami robekan. Bila ini terjadi, cairan dari dalam dapat mengalami kebocoran ke telinga tengah kondisi ini dinamakan fistula perilimfe. Tuba eustachii yang lebarnya sekitar 1 mm dan panjangnya sekitar 35 mm, menghubungkan telinga ke nasofaring. Normalnya, tuba eustachii tertutup, namun dapat terbuka akibat kontraksi otot palatum ketika melakukan manuver Valsalva atau menguap atau menelan. Tuba berfungsi sebagai drainase untuk sekresi dan menyeimbangkan tekanan dalam telinga tengah dengan tekanan atmosfer.

 

Anatomi Telinga Dalam

Telinga dalam tertanam jauh di dalam bagian tulang temporal. Organ untuk pendengaran (koklea) dan keseimbangan (kanalis semisirkularis), begitu juga kranial VII (nervus fasialis) dan VIII (nervus koklea vestibularis) semuanya merupakan bagian dari komplek anatomi. Koklea dan kanalis semisirkularis bersama menyusun tulang labirint. Di dalam lulang labirin terendam dalam cairan yang dinamakan perilimfe, yang berhubungan langsung dengan cairan serebrospinal dalam otak melalui aquaduktus koklearis. Labirin membranosa tersusun atas utrikulus, akulus, dan kanalis semisirkularis, duktus koklearis, dan organan Corti. Labirin membranosa memegang cairan yang dinamakan endolimfe. Terdapat keseimbangan yang sangat tepat antara perilimfe dan endolimfe dalam telinga dalam, banyak kelainan telinga dalam terjadi bila keseimbangan ini terganggu. Percepatan angular menyebabkan gerakan dalam cairan telinga dalam di dalam kanalis dan merangsang sel-sel rambut labirin membranosa. Akibatnya terjadi aktivitas elektris yang berjalan sepanjang cabang vestibular nervus kranialis VIII ke otak. Perubahan posisi kepala dan percepatan linear merangsang sel-sel rambut utrikulus. Ini juga mengakibatkan aktivitas elektris yang akan dihantarkan ke otak oleh nervus kranialis VIII. Di dalam kanalis auditorius internus, nervus koklearis, yang muncul dari koklea, bergabung dengan nervus vestibularis, yang muncul dari kanalis semisirkularis, utrikulus, dan sakulus, menjadi nervus koklearis (nervus kranialis VIII). Yang bergabung dengan nervus ini di dalam kanalis auditorius internus adalah nervus fasialis (nervus kranialis VII). Kanalis auditorius internus mem-bawa nervus tersebut dan asupan darah ke batang otak.

 

 

FISIOLOGI

Pendengaran dapat terjadi dalam dua cara. Bunyi yang dihantarkan melalui telinga luar dan tengah yang terisi udara berjalan melalui konduksi udara. Suara yang dihantararkan melalui tulang secara langsung ke telinga dalam dengan cara konduksi tulang. Normalnya, konduksi udara merupakan jalur yang lebih efisien, namun adanya defek pada membrana timpani atau terputusnya rantai osikulus akan memutuskan konduksi udara normal dan mengakibatkan hilangnya rasio tekanan-suara dan kehilangan pendengaran konduktif. Untuk memahami fisiologi pendengaran perlu diketahui tentang bunyi. Bunyi terjadi disebabkan oleh adanya sumber bunyi, media penghantar gelombang suara serta adanya reseptor penerima informasi tersebut. Sumber bunyi akan menghasilkan tekanan gelombang suara. Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun telinga, dalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang ke koklea. Daun telinga berfungsi untuk menangkap serta menghimpun gelombang bunyi yang datang dari luar untuk kemudian diarahkan ke liang telinga dan selanjutnya bersama liang telinga tersebut menyebabkan naiknya tekanan akustik sebesar 10 – 15 dB pada membran timpani. Setelah sampai di membran timpani, getaran diteruskan ke telinga tengah. Fungsi organ dalam telinga tengah selain untuk meneruskan gelombang bunyi, juga memproses energi bunyi tersebut sebelum memasuki koklea. Dalam telinga tengah, energi bunyi mengalami amplifikasi melalui sistem rangkaian tulang pendengaran. Setelah diamplifikasi, energi tersebut akan diteruskan ke stapes, yang menggerakkan tingkap lonjong sehingga perilimfe pada skala vestibuli bergerak. Getaran diteruskan melalui membran Reissner, yang mendorong endolimfe, sehingga akan menimbulkan gerak relatif antara membran basilaris dan membran tektoria. Proses ini merupakan rangsang mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel – sel rambut, sehingga terjadi pelepasan ion – ion bermuatan listrik. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut sehingga melepaskan neurotransmiter ke dalam sinaps dan menghasilkan potensial aksi yang kemudian diteruskan ke serabut – serabut N.VIII menuju nukleus koklearis sampai ke korteks pendengaran.

 

 

 

 

 

 

PATOFISIOLOGI

 

  1. 2.        PENGKAJIAN, RIWAYAT KESEHATAN, TANDA dan GEJALA SISTEM PENDENGARAN

Pengkajian

Anamnesa

  • Kaji riwayat dari gejala- gejala (misal: gatal, nyeri, bengkak).
  • Tanyakan adanya nyeri telinga.
  • Tanyakan adanya cairan yang mengalir dari telinga, warna, jumlah, konssistensi kekentalan cairan.
  • Tanyakan faktor-faktor yang memperberat (riwayat ketulian, riwayat sering mengorek kuping dengan japit, sering menyiram telinga dengan air).

Kaji fakor-faktor yang berhubungan :

  • Adanya faktor penyebab (misal kurangnya perawatan dan seringnya mengorek telinga dengan japit dan adanya riwayat tuli).
  • Faktor-faktor lingkungan (misal: lingkungan yang bising dan ramai)

Riwayat kesehatan

  • Riwayat Kesehatan Sekarang.

Kapan keluhan mulai berkembang, bagaimana terjadinya, apakah secara tiba-tiba atau berangsur-angsur, apa tindakan yang dilakukan untuk mengurangi keluhan, obat apa yang digunakan, adakah keluhan seperti pilek dan batuk.

  • Riwayat Kesehatan Masa Lalu.

Apakah ada kebiasaan berenang, apakah pernah menderita gangguan pendengaran (kapan, berapa lama, pengobatan apa yang dilakukan, bagaimana kebiasaan membersihkan telinga, keadaan lingkungan tenan, daerah industri, daerah polusi), apakah riwayat pada anggota keluarga.

 

Tanda dan Gejala gangguan Sistem Pendengaran

Presbiakusis adalah penurunan pendengaran normal berkenaan dengan proses penuaan. (Lueckenotte, 1997).

Tanda dan Gejala:

a)      Kesulitan mengerti pembicaraan.

b)      Ketidakmampuan untuk mendengarkan bunyi-bunyi dengan nada tinggi.

c)      Kesulitan membedakan pembicaraan; bunyi bicara lain yang parau atau bergumam.

d)     Latar belakang bunyi berdering atau berdesis yang konstan.

e)      Perubahan kemampuan mendengar konsonan seperti s, z, t, f dan g.

f)       Suara vokal yang frekuensinya rendah seperti a, e, i, o, u umumnya relatif diterima dengan lengkap. (Luekenotte, 1997)

 

TEKNIK PEMERIKSAAN TELINGA LUAR dan MASTOID

Telinga luar

Diperiksa dengan inspeksi dan palpasi langsung sementara membrana timpani diinspeksi, seperti telinga tengah dengan otoskop dan palpasi tak langsung dengan menggunakan otoskop pneumatic.

Pengkajian Fisik.

Inspeksi telinga luar merupakan prosedur yang paling sederhana tapi sering terlewat. Aurikulus dan jaringan sekitarnya diinspeksi adanya

a)      deformitas, lesi,

b)      cairan begitu pula ukuran,

c)      simetris dan sudut penempelan ke kepala.

Gerakan aurikulus normalnya tak menimbulkan nyeri. Bila manuver ini terasa nyeri, harus dicurigai adanya otitis eksterna akut.

Mastoid

Nyeri tekan pada saat palpasi di daerah mastoid dapat menunjukkan mastoiditis akut atau inflamasi nodus auri-kula posterior. Terkadang, kista sebaseus dan tofus (deposit mineral subkutan) terdapat pada pinna. Kulit bersisik pada atau di belakang aurikulus biasanya menunjukkan adanya dermatitis sebore dan dapat terdapat pula di kulit kepala dan struktur wajah.

 

TEKNIK PEMERIKSAAN OTOSKOP

a)      Untuk memeriksa kanalis auditorius eksternus dan membrana timpani, kepala pasien sedikit dijauhkan dari pemeriksa.

b)      Otoskop dipegang dengan satu tangan sementara aurikulus dipegang dengan tangan lainnya dengan mantap dan ditarik ke atas, ke belakang dan sedikit ke luar. Cara ini akan membuat lurus kanal pada orang dewasa, sehingga memungkinkan pemeriksa melihat lebih jelas membrana timpani.

c)      Spekulum dimasukkan dengan lembut dan perlahan ke kanalis telinga, dan mata didekatkan ke lensa pembesar otoskop untuk melihat kanalis dan membrana timpani. Spekulum terbesar yang dapat dimasukkan ke telinga (biasanya 5 mm pada orang dewasa) dipandu dengan lembut ke bawah ke kanal dan agak ke depan. Karena bagian distal kanalis adalah tulang dan ditutupi selapis epitel yang sensitif, maka tekanan harus benar-benar ringan agar tidak menimbulkan nyeri.

d)     Setiap adanya cairan, inflamasi, atau benda asing dalam kanalis auditorius eksternus dicatat.

e)      Membrana timpani sehat berwarna mutiara keabuan pada dasar kanalis. Penanda harus dilihat mungkin pars tensa dan kerucut cahaya, manubrium mallei, dan prosesus brevis.

f)       Gerakan memutar lambat spekulum memungkinkan penglihat lebih jauh pada lipatan malleus dan daerah perifer. Dan warna membran begitu juga tanda yang tak biasa. Adanya cairan, gelembung udara, atau masa di telinga tengah harus dicatat.

g)      Pemeriksaan otoskop kanalis auditorius eksternus membrana timpani yang baik hanya dapat dilakukan bila kanalis tidak terisi serumen yang besar. Serumen normalnya terdapat di kanalis eksternus, dan bila jumlah sedikit tidak akan mengganggu pemeriksaan otoskop.

h)      Bila serumen sangat lengket maka sedikit minyak mineral atau pelunak serumen dapat diteteskan dalam kanalis telinga dan pasien diinstruksikan kembali lagi.

 

TEKNIK UJI PENDENGARAN

Tujuan

Mengetahui keadaan telinga luar, saluran telinga, gendang telinga dan fungsi pendengaran.

  1. A.    Menggunakan Bisikan

a)         Atur posisi klien membelakangi pemeriksa pada jarak 4-6 m.

b)        Instruksikan klien untuk menutup salah satu telinga yang tidak diperiksa.

c)         Bisikkan suatu bilangan, misal ”tujuh enam”.

d)        Minta klien untuk mengulangi bilangan yang didengar.

e)         Periksa telinga lainnya dengan cara yang sama.

f)         Bandingkan kemampuan mendengar telinga kanan dan kiri klien.

  1. B.     Watch Test

a)         Ciptakan suasana ruangan yang tenang.

b)        Pegang arloji dan dekatkan ke telinga klien.

c)         Minta klien untuk memberi tahu pemeriksa jika ia mendengar detak arloji.

d)        Pindahkan posisi arloji perlahan-lahan menjauhi telinga dan minta klien untuk memberitahu pemeriksa jika ia tidak mendengar detak arloji. Normalnya klien masih mendengar sampai jarak 30 cm dari telinga.

  1. C.    Garpu Talla (Pemeriksaan Rinne)

a)      Pegang garpu talla pada tangkainya dan pukulkan ke telapak tangan atau buku jari tangan yang berlawanan.

b)      Letakkan tangkai garpu talla pada prosesus mastoideus klien.

c)      Anjurkan klien untuk memberi tahu pemeriksa jika ia tidak merasakan getaran lagi.

d)     Angkat garpu talla dan dengan cepat tempatkan di depan lubang telinga klien 1-2 cm dengan posisi garpu talla paralel terhadap lubang telinga luar klien.

e)      Instruksikan klien untuk memberitahu apakah ia masih mendengar suara atau tidak.

f)       Catat hasil pendengaran pemeriksaan tersebut.

 

TEKNIK ROMBERG TEST dan HELPICK PICK MANUVER

Tes Romberg

Adalah suatu cara untuk melihat adanya kelemahan pada vestibular.

Cara:

a)      Pasien diinstruksikan untuk berdiri dan membuka mata.

b)      Kemudian pasien diinstruksikan untuk menutup mata (pastikan anda dapat menopang pasien jika dia jatuh).

c)      Kemudian perhatikan apakah pasien terlalu banyak bergoyang atau kehilangan keseimbangan.

Indikasi: jika pasien menutup mata kemudian jatuh, hal ini mengindikasikan adanya kelemahan pada proprioseptif atau vestibular.

Helpick Pick Manuver

Adalah Tes Neurologi yang digunakan untuk mengevaluasi adanya vertigo, misalnya vertigo paroksismal jinak posisional, dengan mengamatibvnystagmus disebabkan oleh perubahan posisi.

Manuver  Hallpike digunakan untuk membantu mendiagnosis vertigo posisional paroksismal jinak (BPPV).

 

 

Cara :

a)      Tempatkan kepala pada brankar dari tempat tidur ke bawah datar.

b)      Ubah posisi pasien sehingga ia duduk 12 inci atau lebih dekat ke arah kepala ranjang dorong datar.

c)      Putar kepala pasien 45 derajat.
Bantu pasien berbaring ke belakang dengan cepat.

d)     Kepala pasien harus menggantung di tepi ranjang dorong pada sekitar 20 derajat ekstensi.

e)      Amati nystagmus rotasi setelah periode laten 5-10 detik, yang menegaskan BPPV.

Sering ditemukan dua hal menantang dalam maneuver :

  1. Pasien sering tidak ingin dipindahkan sambil merasakan nauseously. Ini bahkan termasuk mencoba untuk memposisikan pasien duduk lebih dekat dari kepala ke tempat tidur. Hal ini mengharuskan mereka untuk melihat ke belakang mereka untuk memastikan kemana mereka akan pergi, yang memicu vertigo lagi.
    bagi manuver Dix-Hallpike.

PROSEDUR DIAGNOSTIK

  1. AUDIOMETRI

Audiometri adalah pemeriksaan untuk menentukan jenis dan derajat ketulian (gangguan dengar).

Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan jenis ketulian apakah :

  • • Tuli Konduktif
  • • Tuli Saraf (Sensorineural)

Serta derajat ketulian.

Audiometer adalah peralatan elektronik untuk menguji pendengaran. Audiometer diperlukan untuk mengukur ketajaman pendengaran: • digunakan untuk mengukur ambang pendengaran • mengindikasikan kehilangan pendengaran • pembacaan dapat dilakukan secara manual atau otomatis • mencatat kemampuan pendengaran setiap telinga pada deret frekuensi yang berbeda • menghasilkan audiogram (grafik ambang pendengaran untuk masing-masing telinga pada suatu rentang frekuensi) • pengujian perlu dilakukan di dalam ruangan kedap bunyi namun di ruang yang heningpun hasilnya memuaskan • berbiaya sedang namun dibutuhkan hanya jika kebisingan merupakan masalah/kejadian yang terus-menerus, atau selain itu dapat menggunakan fasilitas di rumah sakit setemapat.

  1. RADIOGRAFI

Radiografi ialah penggunaan sinar pengionan (sinar X, sinar gama) untuk membentuk bayangan benda yang dikaji pada film. Radiografi umumnya digunakan untuk melihat benda tak tembus pandang, misalnya bagian dalam tubuh manusia. Gambaran benda yang diambil dengan radiografi disebut radiograf. Radiografi lazim digunakan pada berbagai bidang, terutama pengobatan dan industri.

 

  1. MRI (Magnetic Resonance Imaging)

Pencitraan resonansi magnetik (bahasa Inggris: Magnetic Resonance Imaging, MRI) ialah gambaran potongan cara singkat badan yang diambil dengan menggunakan daya magnet yang kuat mengelilingi anggota badan tersebut. Berbeda dengan “CT scan”, MRI tidak memberikan rasa sakit akibat radiasi karena tidak digunakannya sinar-X dalam proses tersebut.

Magnetic Resonance Imaging (MRI) merupakan suatu teknik yang digunakan untuk menghasilkan gambar organ dalam pada organisme hidup dan juga untuk menemukan jumlah kandungan air dalam struktur geologi. Biasa digunakan untuk menggambarkan secara patologi atau perubahan fisiologi otot hidup dan juga memperkirakan ketelusan batu kepada hidrokarbon.

Cara kerja MRI

  1. Pertama, putaran nukleus atom molekul otot diselarikan dengan menggunakan medan magnet yang berkekuatan tinggi.
  2. Kemudian, denyutan / pulsa frekuensi radio dikenakan pada tingkat menegak kepada garis medan magnet agar sebagian nuklei hidrogen bertukar arah.
  3. Selepas itu, frekuensi radio akan dimatikan menyebabkan nuklei berganti pada konfigurasi awal. Ketika ini terjadi, tenaga frekuensi radio dibebaskan yang dapat ditemukan oleh gegelung yang mengelilingi pasien.
  4. Sinyal ini dicatat dan data yang dihasilkan diproses oleh komputer untuk menghasilkan gambar otot.

Kelebihan MRI

Salah satu kelebihan tinjau MRI adalah, menurut pengetahuan pengobatan masa kini, tidak berbahaya kepada orang yang sakit. Berbanding dengan CT scans “computed axial tomography” yang menggunakan aksial tomografi berkomputer yang melibatkan dos radiasi mengion, MRI hanya menggunakan medan magnet kuat dan radiasi tidak mengion “non-ionizing” dalam jalur frekuensi radio. Bagaimanapun, perlu diketahui bahwa orang sakit yang membawa benda asing logam (seperti serpihan peluru) atau implant terbenam (seperti tulang Titanium buatan, atau pacemaker) tidak boleh dipindai di dalam mesin MRI, disebabkan penggunaan medan megnet yang kuat.

Satu lagi kelebihan scan MRI adalah kualitas gambar yang diperoleh biasanya mempunyai resolusi lebih baik berbanding CT scan. Lebih-lebih lagi untuk scan otak dan tulang belakang walaupun mesti dicatat bahwa CT scan kadangkala lebih berguna untuk cacat tulang.

 

  1. TYMPANOMETRI

Tympanometry adalah pemeriksaan obyektif yang digunakan untuk mengetahui kondisi telinga tengah dan mobilitas gendang telinga (tympanic membrane) dan tulang-tulang pendengaran di telinga tengah, dengan memberikan tekanan udara yang berbeda di liang telinga.

Tes diberikan dengan memasukkan sebuah alat pada liang telinga yang akan merubah tekanan didalam telinga, memberikan nada murni, dan mengukur respon gendang telinga terhadap suara dan perbedaan tekanan.

Hasilnya akan ditunjukkan dalam bentuk kurva yang disebut: Tympanogram. Tympanogram tipe A dianggap normal, yang artinya tekanan normal di telinga tengah dengan mobilitas gendang telinga dan kondisi tulang-tulang yang normal. Tympanogram tipe B atau C mungkin menunjukkan cairan di telinga tengah, parut pada gendang telinga, kurangnya hubungan antara tulang-tulang pendengaran pada telinga tengah atau tumor pada telinga tengah.

Tympanometry sendiri bukanlah tes pendengaran tetapi komponen penting dari evaluasi audiometri. Pada beberapa kasus dapat memberikan petunjuk jenis gangguan pendengaran yang diderita.

Tympanometer (alat untuk melakukan tympanometry) seringkali meliputi tes-tes lain seperti Acoustic Reflex (AR), Reflex Decay dan Eustachian Tube Function (ETF).

Jika suara keras diberikan ke telinga, saraf yang melalui telinga tengah dan berhubungan dengan tulang-tulang pendengaran di telinga tengah akan berkontraksi dan rangkaian tulang-tulang telinga tengah menjadi kaku. Tes reflek akustik dapat membantu untuk mengevaluasi tingkat ganguan pendengaran dan mengetahui letak masalah pendengaran. Hal ini juga bagian dari proses identifikasi dari Central Auditory Processing Disorders (CAPD).

Reflex Decay menentukan untuk berapa lama Acoustic Reflex / Reflek Akustik berlangsung. Hal ini dapat digunakan untuk mengetahui jika ada gangguan saraf pendengaran.

Eustachian Tube / Tuba Eusthasius menghubungkan telinga tengah dan tenggorokan yang mempunyai tujuan menyeimbangkan tekanan udara ditelinga tengah dan luar serta merupakan ventilasi pada telinga tengah. Tes ETF / Fungsi Tuba Eusthasius dapat digunakan untuk mengetahui jika fungsi tuba eusthasius normal.

 

Uji Fungsi Vestibulum (Menguji Keseimbangan)

Pada vestibulum terdapat 5 muara kanalis semisirkularis dimana kanalis superior dan posterior bersatu membentuk krus kommune sebelum memasuki vestibulum.

Berdiri. Pasien ataksia yang diminta berdiri dengan kedua kaki bersamaan dapat memperlihatkan keengganan atau ketidak mampuan untuk melakukannya. Dengan desakan persisten, pasien secara berangsur-angsur bergerak dengan kaki saling medekat tapi akan meninggalkan ruang antar keduanya. Pasien dengan ataksia sensorik dan beberapa dengan ataksia vesetibular, meskipun pada akhirnya mampu untuk berdiri dengan kedua kakinya, kompensasi terhadap kehilangan satu sumber input sensorius (proprioceptif atau labyrintin) dengan yang mekanisme lain (yaitu visual). Kompensasi ini diperlihatkan pada saat pasien menutup mata, mengeliminasi isyarat visual. Dengan gangguan sensorius atau vestibular, keadaan tidak stabil meningkat dan dapat mengakibatkan pasien jatuh (tanda Romberg). Dengan lesi vestibular, kecenderungan untuk jatuh kesisi lesi. Pasien dengan ataksi serebelar tidak mampu mengadakan kompensasi terhadap defisit dengan menggunakan input visual dan ketidak mampuan pada tungkai mereka apakah pada saat mata tertutup ataupun terbuka.

Melangkah. Langkah terlihat dalam ataksia serebelar dengan dasar-luas, sering dengan keadaan terhuyung-huyung dan dapat diduga sedang mabuk. Osilasi kepala dan trunkus (titubasi) dapat juga ada. Jika lesi hemisfer serebelar unilateral yang bertanggung jawab, maka kecenderungan yang terjadi adalah deviasi kearah sisi lesi saat pasien mencoba untuk berjalan pada garis lurus atau lingkaran atau berbaris pada tempat dengan mata tertutup. Langkah tandem (tumit ke jari kaki).

Pada ataksia sensorius langkah juga dengan dasar-lebar dan langkah tandem rendah. Sebagai tambahan, saat berjalan khas dikarakteristik oleh mengangkat kaki tinggi dari tanah dan membanting kebawah dengan kuat (steppage gait) karena kerusakan proprioceptif. Stabilitas dapat diperbaiki secara dramatikal dengan membiarkan pasien menggunakan tongkat atau sedikit mengistirahatkan tangan pada lengan pemeriksa untuk sokongan. Jika pasien dapat berjalan dalam gelap atau dengan mata tertutup, gait lebih banyak lagi dipengaruhi. Gait ataksia dapat juga menjadi manifestasi dari gangguan konversi (gangguan konversi dengan gejala motorik atau difisit) atau malinggering. Membedakannya sangat sulit, isolasi gait ataksia tanpa ataksia dari tungkai pasien dapat dihasilkan oleh penyakit yang mempengaruhi vermis serebelar superior. Observasi yang sangat membantu dalam mengidentifikasi fakta gait ataksia yang dapat menyebabkan ketidak stabilan pada pasien dengan langkah terhuyung-huyung, dapat mengalami perbaikan dalam kemampuan mereka tanpa jatuh. Perbaikan keseimbangan dari posisi yang tidak stabil, membutuhkan fungsi keseimbangan yang sempurna.

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: